DIALEKTIKA.COM — Sebelumnya, izinkan saya menyampaikan bahwa tulisan singkat ini hanyalah karya fiksi. Jika ada nama, kisah, atau situasi yang kebetulan sama, saya memohon maaf yang sebenar-benarnya. Akan tetapi, seperti yang dikatakan pepatah : fiksi yang baik selalu lahir dari kenyataan yang tak enak diucapkan secara terang-terangan.
Pada zaman dahulu, ada sesosok manusia yang terpilih sebagai Rektor di sebuah kampus yang indah dan baik. Sebut saja namanya “Nez”. Singkat cerita, pada suatu ketika dalam pelantikan ORMAWA, Nez berjanji akan merealisasikan Sekretariat ORMAWA. Semua wajah berseri-seri, di benak mereka terlintas kata “Wah hebat pimpinan nih, positif lebih maju”.
Waktu terus berjalan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Janji tinggal janji. Tak ada kabar, apalagi pesan. Anehnya, tak banyak yang mempertanyakan. Barangkali mahasiswa sudah lelah berharap. Atau barangkali sudah terlalu terbiasa mendengar janji yang seperti itu.
Sampai pada suatu hari, ada tiga mahasiswa berkumpul di parkiran depan gedung kampus, sebut saja Sil, Sul dan Sal. Mereka bukan berdiskusi soal filsafat atau bisnis Syariah, tapi soal “Sekretariat ORMAWA”.
Sil, mengangkat tangan dan berpendapat dengan kesadaran penuh “Sekretariat adalah wujud asli cahaya,” mereka tertawa terbahak-bahak.
Sul kemudian muncul ide “Gimana kalau kita bikin sekretariat dari kardus? Dicat bagus-bagus seperti pelangi, biar kelihatan resmi. Siapa tahu Pak Nez percaya, terus kirim ucapan : Selamat dan sukses atas peresmian sekretariat ORMAWA”.
Sal yang duduk di atas motor dengan helm setengah terbuka, ikut bersuara “Kalau kita tempel juga logo kampus, mungkin makin meyakinkan, tuh hahaha.”
Lagi-lagi mereka pun tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena itulah satu-satunya cara untuk tak mengingat janji manis Pak Nez.
Dikarenakan saya tak pandai menyusun karya fiksi, maka seperti itulah hasilnya, begitu singkat dan mungkin kurang jelas. Tapi setidak-tidaknya, dari kisah itu ada pelajaran yang bisa ambil bahwa “Janji harus ditepati, agar yang menanti tak sakit hati” seperti itu kira-kira.
Ka Gappora mesen pangghung
Ja’ loppa melle kat-kat
Nyo’on saporah mon tersinggung
Tolesan neka sekadar careta sekretariat.

