Karya

Kampus Bukan Sekedar Bangunan: Kesungguhan Mahasiswa Menjadi Kunci Utama

DIALEKTIKA.COM– Di tengah perkembangan dunia pendidikan saat ini, banyak Perguruan Tinggi berlomba-lomba menghadirkan fasilitas kampus yang modern dan lengkap. Gedung megah, ruang kelas ber-AC, hingga akses teknologi yang canggih sering kali dijadikan tolok ukur kualitas sebuah kampus. Namun, motivasi yang disampaikan oleh Rektor INKADHA Bapak Zainollah, M. Pd ini justru mengingatkan kita pada hal yang […]

Kampus Bukan Sekedar Bangunan: Kesungguhan Mahasiswa Menjadi Kunci Utama Read More »

Informasi Kenaikan Harga BBM Tidak Jelas, Negara Jangan Diam

Ramainya isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi belakangan ini memperlihatkan satu hal yang tak bisa diabaikan: masyarakat Indonesia sangat sensitif terhadap informasi yang menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini wajar perubahan harga BBM bukan sekadar angka, tetapi punya efek berantai mulai dari ongkos transportasi hingga harga bahan pokok yang ikut terdorong naik. Namun,

Informasi Kenaikan Harga BBM Tidak Jelas, Negara Jangan Diam Read More »

Menafsir Ulang Lebaran Ketupat: Tradisi, Spiritualitas, dan Rekonsiliasi Sosial

DIALEKTIKA.COM– Di tengah arus modernitas yang cenderung mereduksi makna keagamaan menjadi simbolik dan seremonial, Lebaran Ketupat justru tampil sebagai anomali kultural yang reflektif. Ia tidak hadir pada puncak perayaan, melainkan setelah euforia mereda ketika ruang sosial mulai kembali normal, dan kesadaran individu berhadapan dengan dirinya sendiri. Secara historis, tradisi ini kerap dikaitkan dengan metode dakwah

Menafsir Ulang Lebaran Ketupat: Tradisi, Spiritualitas, dan Rekonsiliasi Sosial Read More »

Apakah Dengan Mati, Baru Dianggap Miskin?

Mengapa kemiskinan masih harus dibuktikan dengan kematian agar bisa dianggap serius? Ada dua hal yang selalu menghantui masyarakat kecil di Indonesia, yaitu kemiskinan dan kematian , hidup sering kali terasa seperti berjalan di atas tali tipis yang membentang di antara dua jurang ( kemiskinan dan kematian). Kemiskinan Merupakan Penjara Tanpa Jeruji. Kasus anak SD di

Apakah Dengan Mati, Baru Dianggap Miskin? Read More »

Rahwana dalam Dirimu, Rama dalam Janjimu

Haruskah aku menjadi dewi Sinta yang terbakar ditengahnya kobaran api? Haruskah aku menjadi Laila yang mati membawa cintanya?  Tuann Rahwana mencintai Sinta tanpa syarat. Jalaluddin Rumi dalam filsafat nya mengatakan, cinta melalui hati itu abadi tanpa perpisahan.  Lantas Kemana janjimu? Aku bersimpuh hanya mengemis sebuah cinta yang kau tanamkan dengan begitu indah, hingga kau bilang

Rahwana dalam Dirimu, Rama dalam Janjimu Read More »

Ketika Negara Meragukan Rakyatnya Sendiri

DIALEKTIKA.COM– Wacana pilkada tidak langsung kembali mengemuka dengan dalih klasik: efisiensi anggaran, stabilitas politik, pencegahan konflik, dan penekanan politik uang. Sekilas, argumen ini terdengar rasional, teknokratis, bahkan “dewasa”. Namun jika ditelisik lebih dalam, wacana tersebut menyimpan persoalan yang jauh lebih mendasar bukan sekadar soal mekanisme pemilihan, melainkan tentang arah demokrasi dan cara negara memandang kedaulatan

Ketika Negara Meragukan Rakyatnya Sendiri Read More »

Jendela Gaib Masa Depan

Kulihat lagi malam itu  Kusingkap setiap jendela gaib yang menutupnya Kuulang lagi kisah yang menyenangkan Kulihat Kupandang Kutatap Ku amati setiap ritme yang berputar berlalu lalang Ku saksikan saksi saksi kehidupan Menatap merdu wajahnya Seolah tak ada yang berbeda Alangkah indahnya dunianya Menghipnotis setiap pandangan yang memandangnya Kulihat begitu indah Namun nyatanya tak semestinya Kau

Jendela Gaib Masa Depan Read More »

Retorika Sang Predator

Apakah benar kau mencari keadilan? Lantas, sikap mana yang harus kubenarkan? Sikap mana yang harus kupandang lihai? Aku terkecoh… Kukira, Dirimu benar-benar penegak keadilan Dan ingin memerdekakan rakyat-rakyat kecilnya. Nyatanya, Kau hanya jadikan mereka kelinci percobaan. Kau jadikan mereka permainan, Masuk dalam taktik perburuan yang kejam. Merampas segala hak kepemilikan, Menabur banyak ruas kebusukan. Kau

Retorika Sang Predator Read More »

Harga Sebuah Keadilan, Siapa yang Harus Membayarnya?

DIALEKTIKA.COM — Prinsip kesamarataan adalah tiang bagi sebuah negara yang mengaku dirinya sebagai negara yang adil. Namun, dalam realitas penegakan hukum, prinsip ini seringkali dirasa rapuh dan pincang. Kontras antara ketegasan, dan kecepatan (gercep) dalam menangani kes-kes kecil yang melibatkan rakyat biasa, berbeda dengan proses yang lamban, dan hukuman yang seolah-olah diringankan untuk jenayah besar,

Harga Sebuah Keadilan, Siapa yang Harus Membayarnya? Read More »

Hati Yang Patah Sebelum Akad

Hancurnya Hati di Balik Senyum indah. Tepat di antara hiruk pikuk pengajian dan hembusan angin laut, tinggallah seorang santri putri yang memancarkan pesona sekaligus ketegasan. Namanya Alena. Wajahnya jelita, namun yang lebih menawan adalah sifatnya yang rajin dan pemberani. Tak heran, banyak santri putra diam-diam mengagumi sosok Alena, yang selalu tampak ceria dan bersemangat. Suatu

Hati Yang Patah Sebelum Akad Read More »

Warisan Yang Digadaikan.

DIALEKTIKA.COM– Indonesia saat ini sedang berduka atau lebih tepatnya ditegur oleh Tuhan melalui alam yang marah. Tak aneh juga sebenarnya mengingat keserakahan yang semakin merajalela, ketamakan yang dipelihara dan kelaliman yang mendarah daging di negeri kita. Bagaimana alam tidak marah? Deforestasi menjadi hal lumrah, pembalakan liar sudah menjadi suatu hal yang normal, penebangan pohon menjadi

Warisan Yang Digadaikan. Read More »

Aksara di Ujung Saka

Aksara di Ujung Saka

Mengundang banyak tanya Misterius di tengah ombak Berlayar tanpa nahkoda Memandu angin membawanya Menyingsing merayap tongkat menancap Bertanya kepada laut akankah dirimu berombak? Kau membawa kapal ke tengah laut dan kau hempaskan ke ujung daratan, Kau menyisakan beribu-ribu kepingan pertanyaan Namun tak satupun bait dijadikan penguat Wahai aksara Kau bertitik tanpa bertingkat Berangan-angan tanpa pasti

Aksara di Ujung Saka Read More »

Sejarah Dinasti Qin, BEM INKADHA Sumenep, Tata Kelola Negara dan Gaya Kepemimpinan Ala Kapten Mugiwara Luffy

Sejarah Dinasti Qin, BEM INKADHA, Tata Kelola Negara dan Gaya Kepemimpinan Ala Kapten Mugiwara Luffy

Mengawali tulisan yang judulnya agak panjang ini, saya mengucapkan terima kasih atas kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) INKADHA Sumenep, yang hingga kini menjadi panutan bagi kami dalam menjalankan roda pemerintahan. Kampus sepemahaman saya adalah miniatur Negara. Memiliki sistem tata kelola dan pemimpin yang menjalankan roda pemerintahan di atas dukungan rakyatnya. Bentuk pemerintahan dan gaya kepemimpinannya

Sejarah Dinasti Qin, BEM INKADHA, Tata Kelola Negara dan Gaya Kepemimpinan Ala Kapten Mugiwara Luffy Read More »

Emang Boleh 2 Periode?

Emang Boleh 2 Periode?

Mengawali tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih atas kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep, yang hingga kini menjadi panutan bagi kami. Terima kasih kepada Presiden Mahasiswa dan kabinetnya yang telah menjalankan sistem dan tata kelola pemerintahan di negara kecil ini selama satu periode. Kampus sepemahaman saya adalah miniatur Negara. Kenapa saya

Emang Boleh 2 Periode? Read More »

Jejak Puisi di Negeri Ini

Jejak Puisi di Negeri Ini

I/ Dahulu, Ia merangkak, tertatih di negeri sendiri November pedih Sebab menganyam tulang-tulang tubuh yang sudah mati “Merdeka!” katanya, menggetar dalam dada Tetes darah mengalir pada tubuhnya Ia tak hiraukan Terus mengobarkan “Merdeka!” katanya lagi, jadi doa masa depan nanti II/ Lirih di telinga Jeritan nestapa gugur bersama reranting tua Doa yang sudah dirapal Dituang

Jejak Puisi di Negeri Ini Read More »

Scroll to Top