Hancurnya Hati di Balik Senyum indah. Tepat di antara hiruk pikuk pengajian dan hembusan angin laut, tinggallah seorang santri putri yang memancarkan pesona sekaligus ketegasan. Namanya Alena. Wajahnya jelita, namun yang lebih menawan adalah sifatnya yang rajin dan pemberani. Tak heran, banyak santri putra diam-diam mengagumi sosok Alena, yang selalu tampak ceria dan bersemangat.
Suatu sore, ketenangan Alena terusik saat ia dipanggil oleh Abah Yai Hasan, kiai pengasuh pondok.
“Nak, ada orang tua dari gus Farhan datang ingin melamarmu???” tanya kiai dengan nada penuh pertimbangan.
Alena menundukkan pandangannya, tangannya saling meremas. “Saya bersedia, jika Yai juga bersedia,” jawabnya dengan suara yang tenang namun mantap.
Laki-laki yang melamar Alena adalah Gus Farhan, seorang santri yang dikenal sebagai abdi dalem di salah satu pesantren terkemuka. Ia adalah sosok yang dihormati, cerdas, dan memiliki masa depan yang terjamin.
Tak lama setelah persetujuan itu, Alena dan Gus Farhan dipertemukan sebentar di dalem (kediaman kiai). Pertemuan itu singkat, canggung, namun penuh dengan harapan setidaknya di mata Alena. Setelah itu, mereka kembali ke pondok masing-masing.
Beberapa hari kemudian, sebuah pesan masuk di ponsel Alena.
Farhan: Assalamu’alaikum warahmatullahi Alena, ini saya Farhan.
Alena: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh enggeh Gus, ada apa?
Gus Farhan ingin memastikan. Ia tidak ingin pernikahan ini hanya didasari kepatuhan.
Farhan: Apakah kamu menerima perjodohan Abah Yai karena hatimu?
Alena: Saya terserah Abah Yai, Gus… Jenengan jika mau menolak tidak apa-apa.
Farhan: Tidak Alena, saya tidak akan menolak. Tapi jujur Alena, saya ada orang lain yang saya cintai.
Jantung Alena mencelos, senyumnya seketika pudar, tapi ia berusaha mempertahankan ketenangan dalam ketikannya.
Alena: Kenapa Gus tidak mengatakannya..?
Farhan: Abah Yai tidak setuju dengan pilihan saya, Alena.
Alena: Lantas bagaimana jika kita menikah? Apa Gus akan melupakannya?
Farhan: Saya pasti akan melupakannya Alena.
Alena mengambil napas dalam-dalam, berusaha menelan pil pahit yang tiba-tiba melilit tenggorokannya. Ia memilih percaya pada janji itu.
Alena: Baik Gus. Assalamu’alaikum.
Farhan: Wa’alaikumussalam.
Selang beberapa minggu, acara khitbah (lamaran) dilaksanakan secara sederhana. Alena tampak berseri-seri, senyumnya memancarkan kebahagiaan sejati. Sementara Gus Farhan? Ia tampak biasa saja, datar, seolah menjalani sebuah kewajiban.
“Gus,” sapa Ramdan, teman sekamar Gus Farhan.
“Iya Dan, kenapa?”
“Jenengan ini kayaknya tidak bahagia, Gus.”
“Bahagia kok, Dan,” jawab Gus Farhan, berusaha meyakinkan diri sendiri.
Ramdan menggeleng pelan. “Jangan bohong, Gus. Mumpung belum nikah, jika sampean belum siap, batalkan, Gus. Kasihan Alena. Perempuan itu sepertinya sangat baik, apalagi orangnya tertutup.”
Gus Farhan menghela napas panjang. “Enggih Dan, saya paham. Cuma… saya masih kepikiran Aisyah, Dan.” Ia mengaku jujur.
“Lepaskan Alena, Gus. Sampean akan menyakitinya jika tetap diteruskan, karena di dalam hati sampean masih tentang Aisyah. Sedangkan Aisyah, dia tega meninggalkan sampean saat sampean terburuk,” ungkap Ramdan panjang lebar, mencoba menyentuh hati sahabatnya.
“Saya akan berusaha mencintainya, Dan.”
Janji itu terucap, namun hati Farhan masih dikuasai oleh bayangan masa lalu.
Empat bulan berlalu, persiapan pernikahan kian sibuk. Tiba-tiba, seperti bayangan yang kembali, Aisyah datang.
“Assalamu’alaikum Gus,” sapa Aisyah di pondok.
“Wa’alaikumussalam Aisyah!” Gus Farhan terkejut setengah mati.
“Selamat, Gus,” kata Aisyah dengan senyum tipis.
Gus Farhan hanya mampu membalasnya dengan senyum getir, lalu buru-buru pergi. Dalam hati kecilnya, cintanya pada Aisyah masih menganga dalam.
Saat hari pernikahan tinggal menghitung hari, Alena mendadak jatuh sakit. Ia berusaha menghubungi calon suaminya, berharap mendapat sedikit perhatian. Namun, tak ada respons.
“Nak,” sapa Umik Alena. “Kenapa kamu murung?”
“Gus Farhan tidak ada, Umik. Saya hanya ingin melihatnya,” jawab Alena lirih.
“Mungkin beliau sibuk, Nak.”
Kondisi Alena memburuk hingga kritis, tetapi Gus Farhan sama sekali tak muncul.
Di tempat lain, Gus Farhan menemui Aisyah.
“Assalamu’alaikum Aisyah, kenapa kamu tega meninggalkan saya?”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Gus. Saya tidak bermaksud meninggalkan sampean, tapi kita tidak ada restu. Cintai Alena dengan tulus, Gus. Dia perempuan baik,” tutur Aisyah.
“Tapi saya mencintai sampean, Aisyah,” jawab Gus Farhan, penuh kepedihan.
“Pergilah, Gus. Lupakan harapan yang dulu. Jodohmu Alena.”
Dengan hati yang hancur, Farhan meninggalkan Aisyah. Kepingan hatinya yang sakit ia bawa pergi, kembali ke pondoknya.
Namun, ia dikejutkan oleh suasana pondok yang dipenuhi santri yang membaca surat Yasin.
“Ramdan! Ada apa ini?” tanyanya panik.
Ramdan memandangnya dengan tatapan kecewa. “Sampean ke mana saja, Gus, selama berbulan-bulan ini? Alena jatuh sakit, Gus. Sampean tidak tahu, padahal pernikahan kalian sudah akan dilangsungkan hari esok!”
“Alena sakit?” Gus Farhan tergagap.
“Alena sebenarnya sudah dari dulu mengetahui kisah cinta kalian, Gus. Cuma Alena berpura-pura tidak tahu demi sampean.”
Salamah, teman dekat Alena, datang menghampiri Gus Farhan, air mata membanjiri wajahnya. “Gus! Kenapa kalau sampean tidak mencintai Alena, kenapa sampean menerima lamaran itu, Gus? Kenapa?”
Senyum Terakhir dan Luka Abadi
Hingga kumandang adzan Subuh terdengar, Alena masih kritis. Saat Gus Farhan akhirnya memasuki ruangan, penyesalan langsung menghantamnya. Alena tersenyum dengan indah, senyumnya yang terakhir.
“Assalamu’alaikum Gus,” sapa Alena dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Alena,” jawab Gus Farhan, nada suaranya penuh penyesalan.
“Gus, kenapa sampean menghilang dan menemui Aisyah, Gus? Bukankah sampean sudah janji dengan saya akan melupakannya? Hingga pernikahan kita tinggal menghitung jam, sampean tidak ada.”
“Maafkan saya, Alena…”
“Katakan, Gus, berikan saya alasan untuk menolak pernikahan ini.”
“Maafkan saya, Alena. Saya tidak bisa. Saya akan tetap menikahimu.”
Air mata Alena akhirnya jatuh, membasahi pipinya. “Sampean egois, Gus. Sampean mau menikahi saya, tapi di hati sampean ada orang lain. Terima kasih atas luka yang diberikan,” jawab Alena dengan lemah.
Menit-menit berlalu. Keadaan Alena semakin terburuk. Semua orang menangis menyaksikan perjuangan terakhirnya. Hingga akhirnya, saat fajar menyingsing, Alena menutup mata, membawa luka mendalam yang diciptakan oleh janji yang tak ditepati.
Gus Farhan tak kuasa menahan tangis. Ia meminta maaf berkali-kali, menggenggam tangan berlapis selimut yang mulai mendingin. Namun, semuanya terlambat. Hancurnya hati Alena tersembunyi sempurna di balik senyum indahnya, senyum yang kini hilang selamanya

