DIALEKTIKA.COM– Indonesia saat ini sedang berduka atau lebih tepatnya ditegur oleh Tuhan melalui alam yang marah. Tak aneh juga sebenarnya mengingat keserakahan yang semakin merajalela, ketamakan yang dipelihara dan kelaliman yang mendarah daging di negeri kita.
Bagaimana alam tidak marah? Deforestasi menjadi hal lumrah, pembalakan liar sudah menjadi suatu hal yang normal, penebangan pohon menjadi suatu hal yang legal dan pengalihan lahan-lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dengan dalih sama-sama pohon menjadi sesuatu wajar untuk dilakukan.
Hey kegilaan macam apa ini?.Mengutip dari Narasi bahwa menurut data dari World Research Institute (WRI), ada sepuluh negara yang paling banyak mengalami deforestasi secara signifikan antara 2015 hingga 2024.
Negara-negara ini menyumbang hampir dua pertiga dari seluruh deforestasi global dalam periode tersebut.
Dan kabar gembiranya Indonesia menjadi urutan negara ke 2 yang mengalami deforestasi besar-besaran dengan jumlah 10 juta hektar yang hilang. Atau dalam ungkapan lain Indonesia dalam satu dekade terakhir menyumbang 11 % dari total deforestasi global.
Angka tadi sudah sangat besar loh! Jangan bandingkan dengan jumlah suara pada pemilu kemarin karena dampaknya sangat jauh berbeda.
Kehilangan 10 juta hektar hutan saja merupakan sebuah prestasi buruk ditambah lagi fakta ironis yang menyatakan bahwa pelaku dari pembalakan sebagian besar berizin alias legal. Kini, dampaknya telah kita rasakan dan saksikan, satwa-satwa yang kehilangan habitatnya, rakyat yang kehilangan kampung halamannya belum lagi cuaca ekstrem yang akan semakin sulit teratasi karena satu-satunya benteng pertahanan yang kita punya telah kita hancurkan sendiri.
Sebagai anak muda tentu kita cemas akan masa depan negeri ini, bukanlah hal yang aneh kalau 2050 nanti Indonesia tenggelam seperti Atlantis. Dalam buku-buku pelajaran dijelaskan bahwa hutan, keragaman flora dan fauna merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi muda.
Loh kalau hutannya terus ditebang, faunanya terus diburu dan pohon-pohonnya dialih fungsikan menjadi perkebunan sawit warisan apa yang akan kita dapatkan? Banjir lagi? Tanah longsorkah?.Warisan kita telah tergadai oleh perut-perut yang tak pernah kenyang. Warisan kita telah dijual oleh kepentingan-kepentingan yang tak pernah puas. Warisan kita telah habis dimakan jiwa-jiwa rakus yang tak pernah puas.

