Emang Boleh 2 Periode?

Emang Boleh 2 Periode?

Mengawali tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih atas kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep, yang hingga kini menjadi panutan bagi kami.

Terima kasih kepada Presiden Mahasiswa dan kabinetnya yang telah menjalankan sistem dan tata kelola pemerintahan di negara kecil ini selama satu periode.

Kampus sepemahaman saya adalah miniatur Negara. Kenapa saya berpikir demikian? Karena tata kelola dan hal yang berhubungan dengan aturan serta sistem, semuanya saya anggap sama.

Ini menarik. Mengingat hal itu, sambil lalu minum kopi, saya teringat bahwa 2024 adalah tahun kontestasi politik menuju Indonesia maju. Saya berharap begitu.

Ingatan menjelang tahun politik membuat saya merasa kepemimpinan Presiden Jokowi sangat memuaskan. Kinerja dan diplomasi yang dilakukan Jokowi sangat baik dan tentunya menghasilkan timbal balik yang sangat luar biasa. Untuk konteks negara Indonesia, saya sangat puas dengan 2 periode kepemimpinan Presiden Jokowi.

Nah, apa hubungannya dengan BEM INKADHA? Apakah mau 2 periode seperti Jokowi? Hehehe, sebentar saya ngopi dulu.

Oke, lanjut. Sejauh ini, kinerja Jokowi selama 2 periode saya anggap bagus dengan program yang berkelanjutan. Lalu bagaimana dengan BEM INKADHA?

Hemat saya, program dan tata kelola pemerintahan/kepemimpinan seharusnya memiliki perubahan. Misal semula saya ngopi duduk, nah kemudian berubah ke ngopi sambil jalan. Begitu kira-kira.

Hari ini saya melihat BEM sibuk melakukan diplomasi, tetapi tidak mengurus dan merawat internalnya. Apakah saya bercerita atau sedang mencoba provokasi? Anda tentu bisa menilainya sendiri.

“Dua periode apabila menghasilkan kemaslahatan kepada umat tentu semua akan bahagia, tetapi apabila berkebalikan, maka negara akan hancur secara perlahan.”

Jika melihat kinerja dari BEM sebelumnya yang dipimpin Presiden Mahasiswa Zubairi, saya puas karena adanya perubahan. Adapun untuk saat ini bisa kita lihat sendiri.

Kondisi tersebut membuat saya berpikir emang boleh 2 periode seperti Jokowi?

Maka sebagai kalimat penutup, saya mengutip buku Seni Perang (Sun Tzu) yang kira-kira begini. “Kita tidak layak memimpin pasukan dalam perjalanan kecuali kita mengenal wajah negara ini—pegunungan dan hutannya, jurang dan tebing terjalnya, rawa-rawa dan rawa-rawanya.” (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top