Sajadah Rindu dan Khitbah Senyap

Aroma kitab kuning dan wangi melati subuh, Mengukir sunyi dalam hati yang tak pernah rapuh. Di antara bilik bambu dan suara hafalan qira’ah, Tersimpan satu nama, dalam doa penuh istiqamah.

Kau, bayangan samar di balik tirai batas, Hanya bertemu dalam majelis ta’lim yang terbatas. Bayangmu adalah batas, pandangan adalah ijab kabul, Bukan kata-kata mesra, tapi getar hati yang tak terukur.

Rindu ini bukan untuk diumbar dalam syair hampa, Tapi ia dibentuk menjadi tasbih, zikir, dan puasa. Setiap langkahku menuntut ilmu, adalah ikhtiarmu jua, Agar kelak kita layak bersanding, di mata-Nya.

Dinding pesantren adalah saksi bisu, bukan pemisah, Melainkan benteng yang menjaga suci, sebelum sah. Cinta kami dibimbing Al-Qur’an, difilter hadits Nabi, Menanti saat ikrar suci, dalam ridho Ilahi Robbi.

Maka, kukirimkan khitbah senyap dalam tahajud panjang, Meminta pada Pemilik hati, agar ikatan ini kan tersambung. Jika memang Engkau takdirkan, pertemuan di dunia fana, Semoga bersemi abadi, hingga Jannah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *