Mengapa kemiskinan masih harus dibuktikan dengan kematian agar bisa dianggap serius?
Ada dua hal yang selalu menghantui masyarakat kecil di Indonesia, yaitu kemiskinan dan kematian , hidup sering kali terasa seperti berjalan di atas tali tipis yang membentang di antara dua jurang ( kemiskinan dan kematian). Kemiskinan Merupakan Penjara Tanpa Jeruji.
Kasus anak SD di NTT yang mengakhiri hidup, karena tidak mampu membeli buku dan pena adalah bukti bahwa kemiskinan di Indonesia telah mencapai klasemen puncak . Mungkin Bagi banyak Orang, harga sebuah buku tulis dan pena hanya setara dengan segelas kopi kekinian. Namun bagi anak tersebut, buku itu adalah tiket untuk merasa “setara” di depan teman-temannya.
Kemiskinan bukan lagi soal perut lapar saja, tapi soal tekanan jiwa yang menghancurkan harga diri seorang anak sebelum ia sempat tumbuh dewasa.
Muncul pertanyaan pahit “Mengapa kemiskinan masih harus dibuktikan dengan kematian agar bisa dianggap serius?
Belakangan ini Kita hidup di negara yang sering kali baru bergerak saat tragedi sudah menjadi berita.
Sering kali, untuk mendapatkan bantuan, masyarakat kecil harus “membuktikan” kemiskinannya. Ironisnya, kematian menjadi satu-satunya bukti mutlak yang tidak bisa didebat lagi.
Ketika standar perlengkapan sekolah menjadi lebih penting daripada kondisi mental siswa, pendidikan tidak lagi membebaskan, Jika buku dan pena berubah menjadi beban yang merenggut nyawa, maka fungsi sekolah sebagai jembatan masa depan kemana?.
Kemiskinan tidak boleh dibiarkan menjadi hakim yang memutuskan siapa yang layak hidup. Tragedi Anak SD di NTT adalah pengingat bahwa di balik angka-angka kemiskinan, ada harga diri yang sedang hancur, dan ada nyawa yang sedang bertaruh untuk bertahan hidup.

