Sejarah Dinasti Qin, BEM INKADHA, Tata Kelola Negara dan Gaya Kepemimpinan Ala Kapten Mugiwara Luffy

Sejarah Dinasti Qin, BEM INKADHA Sumenep, Tata Kelola Negara dan Gaya Kepemimpinan Ala Kapten Mugiwara Luffy

Mengawali tulisan yang judulnya agak panjang ini, saya mengucapkan terima kasih atas kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) INKADHA Sumenep, yang hingga kini menjadi panutan bagi kami dalam menjalankan roda pemerintahan.

Kampus sepemahaman saya adalah miniatur Negara. Memiliki sistem tata kelola dan pemimpin yang menjalankan roda pemerintahan di atas dukungan rakyatnya.

Bentuk pemerintahan dan gaya kepemimpinannya pun bisa beragam. Mungkin mengadopsi sistem presidensial, parlementer hingga liberal dan monarki.

Yang terakhir ini ragam bentuknya ada tiga. Kerajaan, kesultanan dan kekaisaran. Namun bentuk pemerintahan monarki oligarki yang ketiga membuat saya jadi mengingat sebuah imperium yang cukup terkenal di masa lalu, yakni Dinasti Qin.

Dinasti Qin adalah dinasti pertama Kekaisaran Tiongkok, yang berlangsung dari tahun 221 hingga 206 SM. Dinasti ini didirikan oleh Qin Shi Huang, kaisar pertama Qin yang mempersatukan wilayah Cina kala itu di bawah sistem Legalis.

Fondasi politik Dinasti Qin yang kuat karena filosofi legalisnya bersama kekuatan militer yang besar, memungkinkan Qin menyerang negara bagian lain dengan sukses.

Selama masa pemerintahan Dinasti Qin, banyak proyek besar yang dilakukan seperti pembangunan Tembok Besar Cina dan banyak artefak sejarah hebat di sana. Nah, kenapa saya membawa Anda menilik sejarah ini? Hehehe.. santai, ngopi dulu. Akan saya jelaskan kelanjutannya.

Sejarah panjang Dinasti Qin tentu tidak lepas dari cara atau gaya bermain tipu muslihat Ying Zheng atau lebih dikenal dengan Qin Shi Huang. Ia menjadi pelopor lahirnya Dinasti Qin sejak 221 hingga 206 SM.

Lalu apa yang menarik dari raja tersebut? Dan apa hubungannya dengan tata kelola negara, yang harap saya bisa diimplementasikan dalam tata kelola BEM INKADHA Sumenep? Pasti penasaran kan?

Saya akan mencoba menjelaskan ini secara perlahan. Sekadar mengingatkan, kata Ustadz Adi Hidayat, ini penting dicatat.

Begini, Ying Zheng atau Qin shi Huang bukanlah raja tiban dalam masa panjang pemerintahannya. Untuk mendapatkan hal itu, ia mengimplementasikan beberapa poin. Dan yang paling menonjol adalah Legalisme.

Eh, tenang. Saya ngerti kok, biar saya jelaskan dulu apa maksud isme tersebut.

Legalisme adalah suatu aliran politik dan filsafat yang berkembang di Tiongkok pada zaman negara-negara perang (475–221 SM). Aliran itu kemudian menjadi landasan ideologis bagi Dinasti Qin setelahnya.

Legalisme menekankan penerapan hukum yang tegas dan hukuman yang berat untuk mencapai stabilitas sosial dan kekuasaan yang kuat. Selebihnya cari sendiri, manut dawuh Gus Dur “gitu saja kok repot“.

Nah singkatnya begini, apabila kita menyepelekan orang lain, kita akan jatuh. Mengutip kitab Seni Perang Sun Tzu “Nilailah lawanmu dan kenalilah dirimu sendiri; seratus pertempuran akan selalu menang.”

Kemudian bagaimana implementasi filosofi tersebut untuk BEM INKADHA?

Sederhananya, kita harus paham siapa saja yang akan dijadikan pengurus baik internal/eksternal. Dalam pemilihan pengurus jangan pernah seorang pemimpin mendahulukan ego pribadi. Kemudian pemilihan pengurus atau kabinet bukan asal tebang seperti kayu. Hehe cyanda, kayu gencanayo.

Oke lanjut. Jadi, pemilihan pengurus haruslah memperhatikan beberapa hal:

1. SDM
2. Kapasitas
3. Kualitas
4. Kepribadian
5. Asal usul
6. Posisi

Bagian keenam ini jangan asal. Penempatan pengurus akan berdampak kepada sistem pemerintahan atau pemerintah itu akan goyah karena internalnya saja tidak kenal atau tidak tahu pada kemampuannya.

Oh iya, penempatan SDM pengurus ibarat permainan catur. Hal paling penting dalam permainan catur yaitu seorang pemain harus mempunyai kuda atau luncur. Artinya, pemain harus memiliki orang kepercayaan atau teman yang bisa diandalkan kala baik, susah, dan kapanpun itu.

Yang paling penting dia sepemikiran denganmu. Meskipun dia juga harus mempunyai pemikiran yang kadang bertolak belakang dengan pemikiranmu. Kenapa? Oh iya, di judul tulisan ini saya menulis ala Kapten Luffy One Piece bukan. Tahu Luffy? Pernah nonton One Piece? Nah cari teman seperti Zoro. Dan mulai taklukan lautan.

Setelah semua komponen itu dipenuhi masih ada lagi. Seorang pemimpin harus bisa:

1. Memilah dan memilih
2. Abstrak thinking
3. Manuver politik
4. Diplomasi ulung (kalo saya sukanya sih ala Pak Jokowi)
5. Memiliki visi, misi, prinsip dan ketegasan, loyal, lawak, dan juga harus positif vibes seperti Kapten Luffy misalnya.

Semua itu harus diperhatikan, untuk ketahanan dan kemaslahatan umat atau negara yang sedang dipimpin.

Sebagai penutup dari tulisan ini saya kutip kalimat dari buku Sejarah Musim Semi dan Gugur yang ditulis 5 tahun SM. “Yang benar haruslah diucapkan, meskipun itu tidak menyenangkan. Yang menyenangkan harus diucapkan, meskipun itu tidak benar.”

Jadi, bagaimana implementasinya untuk BEM INKADHA? Mari sebentar ngopi bareng dan selamat mengarungi lautan kapten.

Paling akhir. Salam takzim dari kami mahasiswa Psikologi Semester V. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top