DIALEKTIKA.com – Kartu Tanda Mahasiswa atau dikenal akrab dengan singkatan KTM adalah kartu identitas yang seharusnya wajib dimiliki oleh setiap mahasiswa. KTM berfungsi sebagai bukti bahwa seseorang adalah mahasiswa dan sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Bagi mahasiswa kampus tercinta INKADHA pasti sangat bahagia, barangkali sampai lompat-lompat, atau bahkan ada yang sampai tasyakuran andai KTM selesai dan sampai ke tangan masing-masing per individu.
Mungkin kampus tercinta INKADHA sedang mencoba eksperimen dalam dunia perkuliahan: bagaimana rasanya menjadi mahasiswa tanpa identitas, atau bagaimana rasanya menjadi mahasiswa yang berbeda dari kebanyakan. KTM yang seharusnya menjadi simbol, justru menjadi teka-teki yang tak kunjung terselesaikan. Bukan hanya mahasiswa angkatan 2020 yang saat ini sudah menjadi alumni, bahkan mahasiswa angkatan 2021, 2022, 2023, dan adik-adik Maba 2024 pun seperti harus bersabar menanti entah sampai kapan, dengan satu pertanyaan yang meresahkan, “KTM saya dimana?”
KTM dapat dipahami sebagai kartu sakti yang bukan hanya identitas. Saya sendiri, sebagai mahasiswa angkatan 2022, bahkan belum pernah melihat wujud dari barang yang disebut KTM ini. Di INKADHA, KTM memang menjadi barang langka yang tak pernah terlihat sepanjang sejarah perkuliahan. Sepertinya, pihak kampus lebih fokus pada bagaimana mahasiswa bisa kuliah tanpa KTM, ketimbang memastikan mereka mendapatkan identitas yang sah sejak hari pertama mereka mendaftar.
Selama ini, terjadi anomali di kampus INKADHA tercinta. Mahasiswa diminta untuk mengisi data seperti nama lengkap, alamat, prodi, dan NIM untuk dijadikan bahan pembuatan KTM. Sosok yang meminta data tersebut pun merupakan mahasiswa dengan alasan untuk membantu pembuatan KTM.
“Kirim datanya dan foto separuh badan yang pakai jas kampus, nanti tinggal menunggu KTM jadi,” begitu kata mereka. Padahal, banyak mahasiswa dari berbagai angkatan sudah nyetor bahan yang diperlukan untuk pembuatan KTM. Namun, sayangnya hingga detik ini semua itu terasa sia-sia.
Bahkan, ada sahabat saya yang terdaftar dalam kepengurusan organisasi di ranah Jawa Timur. Dia bercerita bahwa salah satu syarat menjadi pengurus saat itu adalah memiliki KTM, dan kebetulan dia serta beberapa temannya adalah mahasiswa INKADHA yang tidak memiliki KTM.
“Untung kami masih diterima, toh meskipun malunya nggak main-main,” ujar teman saya itu. Dari pengalaman ini, bisa dipahami bahwa KTM memang penting bagi mahasiswa.
Pihak yang bertanggung jawab perlu merenung sejenak. Apakah ini adalah sistem yang ideal untuk sebuah kampus yang bergelar institut yang katanya siap universitas? Dengan kemajuan teknologi yang seharusnya bisa mempermudah segala hal, mengapa KTM masih bisa tertunda begitu lama? Bukankah seharusnya mahasiswa bisa segera mendapatkan kartu identitas mereka, yang memudahkan segala urusan administratif dan memberi rasa memiliki terhadap kampus?
Jika memang ada kendala yang membuat KTM tertunda, seharusnya pihak yang bertanggung bisa lebih transparan menjelaskan hal ini kepada mahasiswa. Jangan sampai mahasiswa merasa seperti sedang mengikuti “game” teka-teki administratif yang tidak ada akhirnya. Kalau memang sulit, beri tahu saja kapan KTM itu bisa diterima, jangan sampai mahasiswa merasa dipinggirkan karena tidak memiliki identitas yang sah di kampus mereka sendiri.
Pada akhirnya, ketidakjelasan KTM ini hanyalah setitik debu dari masalah manajemen kampus yang lebih besar. Semoga INKADHA bisa segera menyelesaikan “misteri” ini. Karena yang jelas, kampus bukan tempat untuk bermain teka-teki, apalagi sampai mahasiswa harus bertanya-tanya, “KTM saya, di mana?”
Braji, 21 November 2024

