SEMA dan DEMA INKADHA Dinilai Tak Profesional, Petinggi UKM dan HMP Desak Segera Mubes

DIALEKTIKA.COM – Organisasi Mahasiswa Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) menyuarakan pendapat mereka mengenai ketidakjelasan fungsi Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA), serta ketidakjelasan pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) yang hingga saat ini belum dilaksanakan.

Beberapa dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) INKADHA menilai keterlambatan Mubes ini menimbulkan ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan organisasi mahasiswa ke depan.

Salah satunya disampaikan oleh Pimpinan Umum LPM Dialektika, menurut Yahya Amrullah keterlambatan musyawarah untuk arah kebijakan dalam organisasi kampus sangat vital.

Jikalau terus dibiarkan terlalu lama dikhawatirkan akan berdampak pada estafet kepemimpinan selanjutnya, lantaran beberapa pengurus telah purna sebagai mahasiswa di INKADHA.

“Mubes merupakan wadah penting bagi Ormawa untuk berpartisipasi dalam menentukan arah kebijakan dan merupakan tanda pergantian kepemimpinan DEMA dan SEMA. Namun, saya khawatir jika Mubes semakin terlambat, maka proses regenerasi kepemimpinan bisa terganggu, apalagi banyak dari mereka yang sudah wisuda,” ujar Yahya saat dihubungi, Rabu (20/21/2024).

Sementara itu, Ketua UKM Musik dan UKM Taresna juga menyampaikan pandangan serupa. Menilik kosongnya kepemimpinan dalam ormawa kampus, Ketua UKM Taresna mendesak agar kekosongan pemimpin dalam ormawa secepatnya dicari titik terang.

“Sebagai UKM yang ada di kampus, kami merasa perlu ada kepastian kapan Mubes dan pergantian DEMA dan SEMA akan dilaksanakan,” ujar Rois.

“Kami khawatir ketidakjelasan ini akan mempengaruhi perencanaan program kerja kami yang melibatkan DEMA dan SEMA, karena DEMA dan SEMA periode sekarang tidak ada kontribusi terhadap program-program kerja ormawa, khususnya di UKM Musik,” tambah Musdalifah, Ketua UKM Musik.

Selain beberapa komentar yang disampaikan oleh petinggi UKM, rupanya Fauzi memiliki catatan tersendiri soal keberadaan SEMA dan DEMA periode tahun ini.

Menurut dia dari beberapa periode kepemimpinan sekarang, banyak program yang tidak berjalan dengan baik. Sehingga tak sedikit yang merasa kecewa atas janji yang tak kunjung ditepati.

“Penilaian saya terhadap SEMA dan DEMA di Inkadha, kurangnya program yang dijalankan dalam periode kepemimpinannya, juga program yang sudah dijalankan kurang tepat sasaran atau tidak ditemukan hasilnya,” ujarnya. Fauzi juga menambahkan bahwa teman-temannya di UKM merasa kecewa karena hanya diberikan janji-janji yang hingga kini belum ditepati. “Teman-teman UKM di sini juga hanya diberikan janji-janji yang sampai saat ini belum ditepati,” tambahnya.

HMP Ikut Sampaikan Suara, Minta Kepastian

Rupanya kegaduhan di atas tidak hanya dari kalangan Unit Kegiatan Mahasiswa yang merasa resah dengan kekosongan pemimpin ormawa kampus. Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) juga menyuarakan kekhawatirannya.

Ketua HMP MBS, dan HMP MPI menilai bahwa keterlambatan Mubes dapat menghambat proses kerja Ormawa kampus dan ketidakstabilan dalam hubungan antara DEMA, SEMA, dan beberapa organisasi kemahasiswaan di bawahnya.

Menyorot pembicaraan yang kini ramai di kalangan mahasiswa INKADHA, Feri rupanya mempertanyakan sikap dari pengurus DEMA dan SEMA yang hingga detik ini masih memberikan kejelasan dari kosongnya kepemimpinan.

“DEMA dan SEMA masih belum ada bau-bau pelaksanaan Mubes ini sangat miris, pengurus-pengurusnya sudah minggat dari kampus (sudah diwisuda) sedangkan di kepengurusan belum juga mau demis. Kalau sudah begini siapa yang mau ngurus DEMA dan SEMA? Apa tetep alumni Inkadha angkatan 20 atau mau difakumkan?” ungkap Feri, Ketua HMP MBS.

Selain beberapa catatan seperti kekhawatiran atas kosongnya pemimpin, kejelasan Mubes, serta kejelasan masa kerja petinggi ormawa periode tahun ini rupanya Agus Jaya memberi sebuah lebel bahwa keberadaan SEMA dan DEMA tak lebih dari sebuah formalitas semata. Atas dasar itu ia pun meminta sikap profesionalisme sebagai pemangku kebijakan dalam organisasi kemahasiswaan.

“Kami merasa DEMA dan SEMA tidak profesional atau kurang mampu mengelola waktu dan kegiatan dengan baik, kami menilai DEMA dan SEMA yang ada sekarang tidak ada kontribusinya terhadap ormawa kampus, sehingga kami bersikeras bahwa DEMA dan SEMA hanyalah formalitas semata, karena dalam satu periode tidak bisa menyelesaikan masalah yang ada di kampus,” tutup Agus.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top