Hijab Bukan Cerminmu, Tapi Cerminanmu

DIALEKTIKA.COM — Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Hijab pun sudah menjadi pemandangan umum yang terlihat di jalan, sekolah, kampus, hingga panggung fashion. Tapi di balik kemunculannya yang masif, ada satu hal yang makin sering dilupakan: makna. Kini hijab kerap kali menjadi simbol, bukan sikap. Banyak yang memakainya sebagai penanda “aku Muslimah”, tapi tidak menjadikannya jalan untuk tunduk pada perintah Tuhan.

Beberapa waktu lalu, jagat media sosial ramai membicarakan fenomena influencer hijab yang tampil sensual berpose dengan gaya menggoda, pakaian ketat, atau konten yang secara visual bertentangan dengan nilai hijab itu sendiri. Komentar publik pun terbagi: ada yang membela dengan dalih “yang penting tertutup”, dan ada yang mengkritik karena kehilangan esensi. Ini bukan soal menghakimi pribadi, tapi tentang kontradiksi yang makin normal di tengah masyarakat Muslim terbesar ini. Hijab dipakai, tapi tubuh tetap dipamerkan. Kepala tertutup, tapi aurat tetap jadi konsumsi publik. Media sosial memperparah: hijab dijadikan gaya, bukan penjaga.

Data LSI (2022) menguatkan kekhawatiran ini: 80% perempuan Muslim Indonesia berhijab, tapi hanya 48% yang memahami hijab sebagai perintah syariat. Hijab menjadi formalitas, bukan kesadaran. Ia dipakai karena lingkungan, aturan sekolah, atau tren, bukan karena iman. Padahal jika kita jujur, Allah tidak hanya memerintahkan untuk menutup kepala tapi juga untuk menjaga kehormatan, pandangan, dan adab.

“Seorang lelaki akan merasa malu jika cara memimpinnya ditegur oleh perempuan, karena itu menyentil harga dirinya. Begitu pula seharusnya perempuan merasa malu jika kehormatan dirinya perlu diingatkan oleh lelaki. Karena ketika kehormatan harus ditegur dari luar, bisa jadi nilainya memang sedang hilang dari dalam.”

Dan kenyataannya, hal itu sedang terjadi. Perempuan hari ini-di negeri Muslim terbesar-perlu diingatkan lagi soal kehormatan, malu, dan makna hijab. Itu bukan hal kecil. Itu tanda bahwa nilai itu sedang longgar, dan bahkan mungkin hilang dalam diam.

Hijab pun tak lagi menjadi perisai. Ia dijadikan aksesoris pendamping gaya, bukan pengingat adab. Sampai akhirnya, kita nyaman dengan kontradiksi: tampil Islami tapi tetap sensual, terlihat salehah tapi tetap pamer diri.

Hijab bukan cerminmu. Ia tak dimaksudkan untuk mempercantik tampilanmu. Ia adalah cerminan tentang siapa kamu sebenarnya, saat tidak ada yang melihat kecuali Tuhan.

Berhijab lah bukan karena ramai, tapi karena sadar. Bukan karena lingkungan, tapi karena iman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top