Esensi Hari Raya

Hari raya sebentar lagi, Ramadan pun beranjak pergi. Memang benar, waktu terasa berjalan cepat ketika kita menikmatinya. Tentunya kita akan merasa sedih mengingat bulan Ramadan akan berakhir. Kayak-kayaknya masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi, seharusnya kita bisa lebih banyak melakukan amal-amal saleh di bulan Ramadan. Yah, kurang lebih begitulah isi kepala mayoritas orang-orang Muslim saat menyadari Ramadan akan berakhir.

Hari Raya, sebenarnya apa sih yang terlintas dalam benak kalian ketika mendengar kata itu? Pakaian baru? THR? Banyak makanan dan kue-kue yang lezat? Betul, pemikiran seperti itu tidaklah salah karena memang faktanya demikian. Di hari raya, orang-orang berlomba-lomba memakai pakaian baru, perhiasan baru, ibu-ibu juga pada semangat banget ngebuat kue-kue lebaran. So, tidak heran jika yang pertama kali terlintas adalah hal-hal seperti itu.

Nah, hal-hal di atas adalah pandangan umum tentang hari raya. Akan tetapi, beda lagi kalau kita melihat dari perspektif para ulama. Menurut mereka, hari raya tidak sesederhana itu, ada banyak nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Contohnya dalam kitab Lathoiful Ma’arif karya Ibnu Hazm, seorang ulama bermazhab Dzahiriyah. Mazhab yang didirikan oleh Imam Daud Adz-Dzahiri ini diberi nama Dzahiriyah karena ciri khas dari mazhab ini adalah istinbat hukumnya yang hanya melihat dzahir (sesuatu yang tersurat) dari sebuah dalil. Dalam kitab itu, beliau menjelaskan bahwa:

ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد
ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

“Hari raya bukan tentang orang-orang yang berpakaian baru, tapi tentang orang-orang yang kadar ketaatannya bertambah. Hari raya bukan tentang orang-orang yang bersolek dengan pakaian dan kendaraannya, tetapi tentang orang-orang yang diampuni dosa-dosanya.”

Hal yang hampir serupa juga dijelaskan oleh Syaikh Mala Ali Al-Qori dalam kitabnya Mirqotul Mafatih fi Syarhi Bukhori, bahwasanya:

لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ أَمِنَ الْوَعِيد

“Hari raya bukan tentang orang yang berpakaian baru, tetapi tentang orang yang aman dari ancaman (siksa neraka).”

Intinya, dari dua kutipan di atas kita jadi tahu bahwa menurut ulama, hari raya tidak hanya tentang pakaian, kendaraan, atau aksesoris yang serba baru, melainkan juga tentang ketaatan yang senantiasa bertambah. Makanya, gak heran kalau kita sering mendengar istilah kembali ke fitri saat hari raya Idul Fitri nanti, karena memang esensinya hari raya adalah momentum di mana rohani kita melakukan refresh dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Gimana, filosofis banget kan para ulama kita? (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top