Manusia sebagai makhluk sosial pasti tidak bisa lepas dari berinteraksi dengan manusia lainnya, sebagai makhluk berakal yang dianugerahi kemampuan intelektual manusia memiliki kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Melihat kemampuan-kemampuan tersebut tidak heran jika kita sebagai manusia bisa terus-menerus mengejar goals di segala bidang baik dalam ilmu pengetahuan, ekonomi dan sosial politik.
Ketika kita bersungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu maka bisa dipastikan kita akan mendapatkan hal tersebut, terdengar indah bukan? Tapi dibalik semua itu kita pasti akan sering bertemu dengan manusia-manusia lainnya yang dengki (hasad) kepada pencapaian yang kita dapatkan, entah bagaimana awalnya yang jelas setiap kali kita mencapai sesuatu pasti ada orang dengki dibaliknya. Ibarat kata pencapaian dan pendengki adalah dua sisi koin yang tak dapat dipisahkan. So, bagaimana kita mengatasinya? Sebab diakui atau tidak, cepat atau lambat kita pasti akan terpapar olehnya.
Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita bahas sedikit tentang apa itu dengki. Dengki merupakan salah satu penyakit hati. Dalam ilmu tasawuf dengki dikenal dengan istilah hasad, hasad adalah keadaan dimana seseorang tidak senang terhadap nikmat yang ada pada orang lain dan berharap nikmat itu hilang lalu pindah kepada dirinya. Jahat banget ya? Gak heran sih kalau Nabi bersabda :
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَب
رواه احمدَ”
artinya “Jauhkanlah dirimu dari hasad karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.
Enggak heran sih kalau Nabi sampai sebegitunya ketika mengultimatum hasad, sebab hasad itu sendiri merupakan sumber petaka dan sumbu kehancuran, pertemanan akan retak ketika ada hasad di dalamnya, persahabatan akan hancur ketika tumbuh hasad diantara keduanya. Ketika seseorang terjangkit penyakit hasad pandangannya tidak akan pernah objektif karena hatinya sudah terlanjur gelap, nuraninya akan buta karena hatinya telah terbunuh oleh hasad. Seorang penyair berkata tatkala menggambarkan sifat seorang pendengki.
حسدوا الفتى اذا لم ينالوا سعيه فالقوم أعداء له وخصوم
كضرائر الحسناء قلن لوجهها حسدا وبغيا أنه لدميم
“Orang-orang akan dengki kepada kita ketika mereka tidak bisa mencapai apa yang kita capai lantas mereka akan benci dan memusuhi kita. Sebagaimana seorang wanita cantik yang memiliki madu betapa pun cantiknya ia tetap akan mengatakan bahwa dia (madunya) jelek”.
Lalu apa langkah kita agar terhindar dari mereka? Okey, kita harus sepakat dulu bahwa orang yang dengki tetap akan selalu ada didunia ini sehingga untuk 100 persen terbebas dari mereka rasanya mustahil, selagi kita memiliki prestasi dan pencapaian maka orang-orang dengki akan selalu ada di hidup kita. Jadi langkah paling mudah untuk terhindar dari mereka adalah tidak menggubris kehadiran mereka, waktu kita terlalu berharga untuk meladeni kekonyolan-kekonyolan mereka. biarkan saja mereka terus memupuk kedengkian sementara kita sibuk mempersiapkan diri untuk kehidupan di masa depan. Hidup terlalu singkat untuk membuat semua orang senang kepada kita, umur terlalu pendek untuk membuat semua orang tidak mensruh rasa dengki, kita realistis saja bahwa orang-orang dengki akan selalu ada di dunia ini adalah fakta yang tak terbantahkan.
Walhasil, cara terampuh untuk melawan para pendengki adalah dengan cara terus fokus mengupgrade diri dan tidak memedulikannya. Adapun fakta bahwa orang-orang dengki kepada kita yah kita cuekin aja, biarkan saja mereka terus hidup sebagai seorang pendengki yang senantiasa merugi.

