DIALEKTIKA.COM — Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah kembali mengingatkan umat Islam pada momen hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Bagi umat Muslim, peristiwa tersebut bukan sekadar sejarah, tapi awal dari perubahan besar dalam membangun peradaban Islam.
Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Institut Kariman Wirayudha (INKADHA), Dr. Pahar Kurniadi, M.Pd.I., menilai momen ini sangat tepat untuk refleksi dan muhasabah diri, baik secara spiritual maupun intelektual.
“Tahun baru Hijriah menurut saya adalah momentum refleksi dan muhasabah diri. Introspeksi dan evaluasi apakah waktu yang telah berlalu sudah diisi dengan perbuatan yang baik, ilmu yang bermanfaat, dan amalan yang diridai Allah,” ungkapnya (26/06/2025).
Menurut Pahar, pesan utama dari hijrah Nabi Muhammad SAW adalah keberanian untuk berubah, membangun solidaritas, dan menjadi titik awal tegaknya peradaban Islam yang kuat dan bermartabat. Dalam dunia mahasiswa, hal ini relevan sebagai ajakan untuk menata ulang pola pikir dan perilaku ke arah yang lebih baik.
“Hijrah mahasiswa hari ini berarti meninggalkan rasa malas, menunda-nunda, dan menjauhkan diri dari lingkungan yang negatif, menuju semangat belajar, disiplin, serta mendekatkan diri pada lingkungan akademik yang positif. Hijrah akademik dan spiritual harus berjalan beriringan agar mahasiswa menjadi visioner dan produktif,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman sejarah hijrah para tokoh Islam, seperti Imam Syafi’i hingga Imam Ahmad bin Isa, yang melahirkan peradaban dan pemikiran baru. Menurutnya, mahasiswa bisa memaknai Tahun Baru Islam lebih dalam dengan cara berdiskusi, duduk santai sembari ngopi, membedah sejarah hijrah yang inspiratif dan menumbuhkan semangat baru.
Namun, tantangan besar generasi hari ini tidak ringan. Pahar menyebut kecanduan gadget, konten negatif, hoaks, ujaran kebencian, hingga budaya hedonis sebagai ancaman nyata di era digital. Pergaulan bebas, tekanan sosial, dan krisis figur teladan juga memperburuk kondisi.
“Kampus dan ormawa harus hadir memberi arah. Perubahan tidak cukup dari teori di kelas, tapi rektor, dosen, hingga ormawa harus menjadi role model. Kegiatan seperti kajian hijrah mindset, moral, waktu, hingga digital sangat dibutuhkan,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia berharap mahasiswa INKADHA di tahun 1447 H ini mampu lebih selektif dalam memilih role model, bijak dalam bermedia sosial, serta membangun komunitas positif yang mendorong motivasi belajar dan pengembangan diri.
“Yang paling penting adalah memperkuat iman dan takwa. Tetapkan target hijrah minimal satu tahun ke depan apa capaian dan prestasi yang ingin diraih. Dari situ akan lahir langkah-langkah produktif dan kreatif,” pungkasnya.

