LPM Dialektika

Boazhai dan Pertempuran Changping

Rabu, 28 Oktober 2026, 22.03 WIB

CERPEN — “Mā,1 apa Bàba2 menunggu kita di nirwana?” Pertanyaan itu seperti menggores luka purba di dada Boazhai. Ingatannya terpental pada peristiwa sepuluh tahun lalu.

Kala itu, setelah kepergian Guotin yang ditarik untuk melancarkan kampanye militer di negara Han, Boazhai merasa hari-harinya kian sepi. Sudah terhitung delapan bulan kepergian Guotin sejak ia memberitahu akan kepergiannya pada suatu senja di tebing Gunung Wutai yang tak jauh dari rumahnya, dan sejak itu pula perut yang semula terlihat datar mulai tampak membesar. Sesekali ia merasa bayi dalam kanduangannya menendang-nendang. Di rumah itu ia bersama Daiyu, sang ibu mertua yang telah renta yang sama-sama menangkup harap agar anak lelakinya lekas kembali.

 

Dua anak panah menancap di tubuh Guotin. Ia meringis kesakitan sambil berusaha mencabut satu anak panah yang telah merobek bahu kirinya. Pukulan telak dari negara Qin membuat pasukan yang dikepalai oleh Simu Shang luluh lantak, sebagian besar dihabisi pasukan musuh dan sebagian lainnya luka parah, termasuk Guotin yang kini sekuat tenaga menahan rasa sakit dan tengah berusaha mencabut sendiri anak panah yang dimuntahkan busur pasukan Qin.

Sebagai pasukan elit, ia tidak menyangka terhadap serangan balik dari Qin yang membuat sebagian besar pasukan negara Zhao lenyap sia-sia. Semula ia bersama dengan pasukan yang ada di bawah tangan Simu Shang berhasil meredam peperangan yang pecah di distrik Qinyang dan membuat barisan pertahanan Ketua Honghui mundur.

Kala itu, tepat ketika matahari karam di langit Qinyang, wilayah itu seutuhnya bersih dari pasukan Qin yang hendak menguasai distrik tersebut. Sejak beberapa tahun terakhir berbagai serangan dilancarkan oleh Qin untuk mengusai wilayah strategis itu. Keterlibatan Zhao pada peperangan ini tak lain bagian dari upaya menangkal keserakahan negara Qin yang hendak mengakuisisi berbagai wilayah yang berada di sebelah barat laut Gaoping. Maka untuh menghindari kemungkinan buruk dari kekejian negara Qin, raja Mu (nama raja negara Zhao) dengan tegas mengirim bala bantuan ke negara Han sebelum lebih dalam menjangkau sampai ke Shangdang yang kini menjadi pusat perhatian.

Keputusan berat raja Mu mengirim bala bantuan pasukan elit ke negara Han bukan tanpa perhitungan. Mendapat titah untuk menduduki kepemerintahan dari raja sebelumnya, membuat raja Mu sekuat tenaga menghindari peperangan pecah di negaranya. Ia cukup jeli memerhatikan hal-hal kecil termasuk gerakan dari negara Qin menginvasi dataran di sebelah barat Zhao tak lain untuk menundukkan negara itu.

Ia cukup paham mengapa negara Zhao menjadi tujuan utama, tak lain adalah untuk memperoleh kesuburan negara Zhao yang menjadi penyalur pangan lewat perdagangan hasil tani seperti gandum dan membuat perekonomian negara Zhao stabil daripada beberapa negara di sampingnya.

Setelah melakukan perundingan dengan beberapa petinggi, keputusan pun diambil dengan menunjuk jenderal Simu Shang untuk membawa sebagian pasukan elit kerajaan. Goutin dan Jiao-long masuk ke daftar nama yang akan membendung serangan negara Qin di distirik barat negara Han. Mereka berangkat di pagi buta. Berpasang-pasang kaki kuda membelah kota Zhao, pasukan itu melesat meninggalkan gerbang kota.

Hari ini adalah bulan kedelapan sejak pasukan Simu Shang sampai ke distrik negara Han. Keberhasilan menduduki kembali kota Qinyang hanya bertahan tiga hari. Sebelum fajar menggaris langit di ufuk timur camp pasukan Simu Shang digempur habis saat penjagaan terpantau lengah.

“Ini terlalu besar! Jumlah kita terpaut jauh dari pasukan Jenderal Honghui,” Jiao-long memerhatikan gerakan musuh yang sangat lincah dan agresif. Ditugaskan sebagai pemanah, ia tak bisa terjun langsung ke tengah-tengah pertempuran. Dari balik pagoda, Jiao-long membidik satu per satu pasukan tempur Jenderal Honghui. Meski beberapa anak panah ia lepaskan, namun terhempas—tak bisa menembus baju besi dan pagar tameng yang sangat rapat.

“Ini benar-benar gawat. Kita tak banyak memiliki ketersediaan anak panah,” ujar Guotin, beberapa detik kemudian ia mencoba menarget Jenderal Honghui. Namun sia-sia, anak panah itu terpental dan tak sedikit pun menggores kulit jenderal utusan negara Qin itu.

Di medan perang tak ada satu pun yang bisa memprediksi strategi semacam apa yang dijalankan oleh lawan. Pasukan elit negara Zhao itu kini benar-benar terpojok dengan bala bantuan pihak musuh yang jauh melampaui kemampuan mereka. Di satu sisi, tumbangnya satu per satu dari pihak Jenderal Simu Shang membuat keadaan semakin terdesak. Lambat laun mereka tumbang, kedua mata Jian3 dan moncong Ji4 merobek kulit mereka. Kekejaman negara Qin tergambar jelas di mata Guotin.

Pukulan telak negara Qin membuat Jenderal Simu Shang harus mengambil keputusan berat dan merelakan distrik kota Qinyang kembali jatuh ke tangan musuh. Ini jauh dari rencana awal, semula mereka mengira kekuatan dari Qin tak akan juah berbeda seperti saat memukul mereka di lereng gunung Taihang. Tujuh hari lalu, perlawanan Qin berhasil diredam dengan waktu yang relatif singkat. Siapa sangka, ternyata kekuatan sebenarnya dari pihak musuh berada di kota Qinyang dan dipimpin langsung oleh Jenderal Honghui yang terkenal licik dan kejam.

 

“Kita tidak bisa terus-menerus lari seperti ini,” Jenderal Simu Shang memecah hening pagi itu. Setelah semalaman meninggalkan distrik kota Qinyang akhirnya mereka sampai ke perbatasan Gunung Taihang dan Sungai Kuning. Sang jenderal kembali menangkup tangan, untuk keduakalinya mengambil air untuk melepas dahaga.

Mata air Sungai Kuning membuat kerongkongan mereka seperti ladang yang kembali subur setelah tercekik kemarau tujuh musim. Tenaga mereka benar-benar terkuras, belum lagi luka-luka di bagian tubuh mereka membuat tak leluasa menggerakkan badan.

“Apa langkah selanjutnya?” tanya Jiao-long sambil membantu Jenderal Simu Shang melepas khuze5.

“Untuk saat ini kita tak memiliki anak panah lagi. Jumlah kita terbatas, hanya enam orang.”

 

“Pōpo6, bagaimana keadaan anakku?” suara Boazhai terdengar lirih ketika ia melihat Daiyu menggendong anak lelakinya. Ia melahirkan kemarin malam tepat ketika gerimis mengiring kepergian utusan istana yang berkabar tentang pukulan telak negara Qin pada pasukan Zhao di distrik Qinyang.

“Sehat. Matanya sekilas mirip suamimu, kan?”

Ia tak memberi jawaban. Di atas ranjang matanya jauh menerawang bagaimana kondisi Guotin setelah sekian bulan meninggalkan rumah.

Pikiran Boazhai jauh melayang lalu hinggap pada kekhawatiran yang selama ini ia takutkan. Semula, sejak suaminya memberi tahu akan kepergiannya ke medan perang ia merasa seperti ada maut yang siap merenggut masa depan anaknya. Apa jadinya darah daging yang ia lahirkan besar tanpa kehadiran seorang ayah. Pikiran buruk lainnya turut tumbuh—setelah tuan Hao yang sejak beberapa waktu lalu selalu datang menawarkan diri menjadi pengganti Guotin jika benar dia tewas di mata pedang Qin seperti kabar yang beredar beberapa waktu lalu.

“Guotin, anakmu telah lahir,” seru Boazhai, disusul bulir-bulir bening yang menitik satu-satu ke telapan tangan.

Kekhawatian pada sang suami kini benar-benar bermuara pada kehilangan yang membuat air matanya seketika keluar deras. Utusan kerajaan kembali datang untuk kedua kalinya setelah semalam membawa kabar buruk tentang pasukan jenderal Shimu Shang yang terdesak. Dan kini pasukan itu dinyatakan gugur, utusan itu memberi sebuah pelakat tanda kesetiaan Guotian pada negara Zhao dan raja Mu.

Setelah sekian lama merindukan Guotin, akhirnya ia pulang tinggal nama dan mewujud sebuah giok bertulis nama “Guotian pasukan elit Zhao”.

“Iya, sekarang Bàba sedang menunggu kita. Pegang giok ini, masa depanmu harus lebih baik darinya,” Boazhai mendekatkan kepala anaknya ke dada. Di gunung Wutai, ia berkisah tentang masa hidup Guotin sebelum jadi pasukan elit Zhao hingga direnggut oleh pertempuran Changping.


Oleh: Helmy Khan

Berita Terbaru

Info & Iklan

Poster Info dan Iklan LPM Dialektika
Poster Info dan Iklan LPM Dialektika
Poster Info dan Iklan LPM Dialektika
Poster Info dan Iklan LPM Dialektika

Berita Populer