Antara Nafsu & Setan

Manusia merupakan makhluk yang dikarunia nafsu oleh Tuhan sebagaimana bangsa Jin, berbeda dengan malaikat yang tak memiliki nafsu ataupun hewan yang cuma memiliki nafsu. Keberadaan nafsu pada diri manusia ibarat pedang berbilah dua jika ia mampu mengendalikannys maka ia akan menjadi makhluk yang mulia bahkan bisa lebih mulia daripada malaikat akan tetapi jika ia tidak mampu mengendalikannya justru ia akan lebih hina dan biadab daripada binatang.

Dalam diri Manusia, nafsu memiliki kedudukan sebagai pemicu keburukan. Hal ini digambarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surah Yusuf : 53
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

Jika boleh kita ibaratkan, nafsu itu seperti anak kecil yang apabila setiap keinginannya kita turuti kita sendiri yang akan kerepotan sebaliknya jika terlalu keras mengekangnya maka bisa dipastikan ia akan tantrum. Imam al-Bushiri berkata dalam syair Burdahnya
والنفسُ كالطفلِ إن تهملهُ شَبَّ على ….. حُبِّ الرَّضاعِ وإنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِم
Nafsu itu ibarat anak kecil jika kau membiarkannya (tidak menjaganya) maka ia akan tetap suka menyusu sampai dewasa dan jika kau menyapihnya maka ia akan berhenti.

Sebagai musuh Manusia, Setan memiliki andil besar dalam upaya pengendalian, ia berperan sebagai sosok provokator agar nafsu terdistraksi untuk melakukan perbuatan dosa.

Oh iya perlu diketahui bahwa Setan tidak hanya berasal dari bangsa Jin saja ya, tapi juga berasal dari bangsa Manusia, kelakuannya juga sama cuma bedanya kalau varian ini kasat mata aja. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (Q.S Al-Baqarah 2:14)

Pada ayat diatas Setan-setan yang dimaksud adalah Manusia yang tidak beriman dan suka mengajak terhadap keburukan. So, sudah jelas ya bahwa bangsa Manusia juga bisa menjadi Setan karena esensinya Setan adalah Makhluk simbolis yang memanifestasikan ketidaktaatan dan keingkaran kepada Tuhan.

Nah, dibulan Ramadan diriwayatkan bahwa Setan-setan dibelenggu oleh Tuhan, riwayatnya sebagai berikut:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya, “Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan Setan-setan dibelanggu.” (H.R. MUSLIM)

Perlu dipahami bahwa pada makna dibelenggu disini Ulama berbeda pendapat ada yang menyatakan dibelenggu beneran maksudnya kata dibelenggu itu diarahkan terhadap makna asalnya ada Ulama yang berpendapat bahwa dibelenggu disini adalah Setan-setan dilemahkan kekuatannya oleh Tuhan sehingga tidak bisa leluasa menggoda manusia seperti bulan-bulan sebelumnya.

Walhasil, apapun maknanya mumpung sekarang bulan Ramadan dan Setan-setan sedang dibelenggu inilah kesempatan kita untuk meningkatkan ketakwaan dan amalan-amalan saleh lainnya. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top