“Kita adalah umat paling mulia.” Pernyataan semacam itu mungkin sudah sering kita dengar. Tak terhitung ulama yang menulis tentang keutamaan umat Rasulullah ﷺ, dan tak terbilang hadis yang meriwayatkan keistimewaan-keistimewaan umat beliau yang tidak dimiliki oleh umat-umat sebelumnya. Secara umum, ini mencakup keutamaan umatnya, baik di generasi sahabat, tabi’in, maupun generasi-generasi selanjutnya.
Nah, dari sekian generasi umat Nabi, kita harus bersepakat bahwa generasi terbaik adalah generasi para sahabat, kemudian generasi setelahnya, dan seterusnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim:
(٢٥٣٣) حدثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَهَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ. قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ عن منصور، عن إبراهيم بن يزيد، عن عبيدة السلماني، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ «خير أمتي القرن الذين يلوني. ثم الذين يلونهم. ثم الذين يلونهم»
(2533) Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Hannad bin As-Sari’. Mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Ahwash dari Manshur, dari Ibrahim bin Yazid, dari ‘Ubaidah As-Salmani, dari Abdullah. Dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang mengikutiku. Kemudian generasi setelah mereka. Kemudian generasi setelah mereka.”
Akan tetapi, hadis di atas sering kali diframing oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menjelek-jelekkan generasi umat Islam saat ini. Mereka beralasan bahwa generasi kita memiliki jarak yang sangat jauh dari masa Rasulullah ﷺ. Kalian pasti sering menyaksikan, ketika ada seorang Muslim yang berbuat salah, selalu saja ada yang nyeletuk, “Kelakuan umat akhir zaman,” seakan-akan itu cukup merepresentasikan kelakuan umat Islam di seluruh dunia. Ironisnya, ketika mereka ditanya atas dasar apa mereka berkata demikian, mereka berdalih dengan hadis di atas.
Oleh karena itu, saya ingin menjelaskan bahwa anggapan mereka tidak sepenuhnya benar. Memang benar bahwa generasi kita tidak lebih baik dari generasi sahabat, tetapi bukan berarti kita dianggap sebagai umat yang hina hanya karena hidup di akhir zaman. Sampai kapan pun zamannya, selama kita mengimani Baginda Rasulullah ﷺ, kita tetap tercatat sebagai umatnya. Bahkan, justru kita adalah umat yang dirindukan oleh Rasulullah ﷺ. Berikut buktinya:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ «أَيُّ الْخَلْقِ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟»، قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ، قَالَ: «وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ، وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ﷿؟»، قَالُوا: فَالنَّبِيُّونَ، قَالَ: «وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ، وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟»، قَالُوا: فَنَحْنُ، قَالَ: «وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ، وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟»، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَلَا إِنَّ أَعْجَبَ الْخَلْقِ إِلَيَّ إِيمَانًا لَقَوْمٌ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ، يَجِدُونَ صُحُفًا فِيهَا كُتُبٌ يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا»
(Diriwayatkan dalam Juz’ Ibn ‘Arafah 1/52 – Al-Hasan bin ‘Arafah Al-Baghdadi (w. 257 H))*
Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapakah makhluk yang paling menakjubkan imannya menurut kalian?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Para malaikat.” Beliau bersabda, “Bagaimana mungkin mereka tidak beriman, sedangkan mereka berada di sisi Tuhan mereka?” Mereka menjawab, “Para nabi.” Beliau bersabda, “Bagaimana mungkin mereka tidak beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka?” Mereka menjawab, “Kami (para sahabat).” Beliau bersabda, “Bagaimana mungkin kalian tidak beriman, sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian?” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya makhluk yang paling menakjubkan imannya menurutku adalah kaum yang datang setelah kalian. Mereka menemukan lembaran-lembaran yang berisi kitab-kitab (wahyu), lalu mereka beriman dengan apa yang ada di dalamnya.”
Bagaimana? Riwayat di atas cukup menjadi bukti bahwa cinta kasih Baginda Rasulullah ﷺ kepada umatnya adalah sama, baik kepada generasi sahabat, tabi’in, maupun umat akhir zaman.
Jadi, kita tidak perlu berkecil hati, karena ternyata kita juga memiliki privilege yang luar biasa sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ. Tidak adil rasanya jika kita mengecilkan umat Islam saat ini hanya karena banyak orang yang bermaksiat. Toh, di luar sana juga banyak orang-orang saleh. Alangkah tidak bijaksananya jika kita mendiskreditkan umat Islam hanya karena generasi kita sudah jauh dari masa Rasulullah ﷺ. Iya, kan? (*)
