Dibalik Perang Badar

Gak kerasa kita sudah mendekati sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Tau-tau kemarin udah tanggal 17 Ramadan. Tentunya, kalian pasti udah pada tau kan kalau tanggal 17 Ramadan bertepatan dengan Nuzulul Qur’an? Itu loh, malam di mana wahyu pertama diturunkan kepada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Akan tetapi, ada juga loh peristiwa besar dalam sejarah Islam yang terjadi pada tanggal 17 Ramadan selain Nuzulul Qur’an, yaitu Perang Badar Al-Kubro. Perang pertama kaum Muslimin melawan orang-orang kafir setelah puluhan tahun Nabi dan para sahabat disiksa serta diintimidasi oleh mereka.

Perang ini terjadi pada tahun ke-2 Hijrah, bertepatan dengan bulan Ramadan yang fun fact-nya merupakan puasa Ramadan perdana bagi Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat. Gak kebayang sih gimana beratnya—siang-siang yang seharusnya lagi enak-enaknya buat istirahat malah perang! Kalau kita, fix udah ngeluh dan protes kayak Bani Israil.

Tapi ingat! Ini Nabi dan para sahabat loh, yang semangat juangnya lebih tinggi dari gunung manapun. Perang ini terjadi di lembah Badar dengan orang-orang kafir yang berjumlah 1.000 orang, dilengkapi 600 baju besi, 200 ekor kuda, dan ratusan unta. Sedangkan kaum Muslimin hanya berjumlah sekitar 313 orang, terdiri dari 82 Muhajirin, 61 dari suku Aus, dan 170 dari suku Khazraj. Persenjataannya pun sangat terbatas, hanya sekitar 70 ekor unta dan dua atau tiga ekor kuda.

Tapi ada yang menarik nih! Di barisan kaum Muslimin, ada orang-orang dari suku Aus dan Khazraj. Padahal, kedua suku ini musuh bebuyutan sejak lama. Mereka terkenal suka berperang dan gak pernah akur. Namun, di tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, mereka bisa bersatu dalam satu barisan dan melupakan dendam lama. Keren banget ya kepemimpinan Rasulullah? Gak heran kalau Michael Hart menobatkan beliau di urutan pertama orang paling berpengaruh di dunia.

Jumlah pasukan yang tidak imbang, perlengkapan perang yang minim, serta perbedaan pengalaman bertempur pastilah membuat risau Baginda Rasul. Wajar, sebagai seorang manusia, beliau sangat mengkhawatirkan nasib kaum Muslimin dalam perang yang akan mereka hadapi. Namun, kerisauan itu tidak Rasulullah tampakkan di hadapan pasukannya supaya mental para sahabat tidak down.

Kerisauan Baginda sudah tak tertahankan. Akhirnya, pada malam sebelum perang dimulai, beliau berdoa di dalam kemahnya dengan penuh harap:

“Ya Allah, Ya Tuhanku, tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, Ya Tuhanku, kurniakanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, Ya Tuhanku, jika binasa kumpulan ini, niscaya tiada siapa lagi yang menyembah-Mu di dunia ini.”

Begitu besar cinta Rasulullah kepada sahabatnya. Beliau larut dalam doanya hingga surban di lehernya jatuh. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu yang tak kuasa melihat kejadian mengharukan ini berkata, “Wahai Rasulullah! Cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu, sungguh Ia pasti akan mengabulkan doamu.”

Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Tidak mungkin Ia mengabaikan doa yang diucapkan kekasih-Nya. Maka, Allah pun mengirimkan bala bantuan yang tak terkalahkan kepada kaum Muslimin. Hal ini tergambar dalam firman-Nya:

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

“Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkannya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)

Keesokan harinya, Perang Badar berkecamuk. Peperangan dimulai dengan perang tanding antara Sayyidina Ubaidah bin Al-Harits, Hamzah bin Abdul Muththalib, dan Ali bin Abi Thalib melawan Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan Walid bin Utbah. Duel ini dimenangkan oleh para sahabat, namun sayangnya, Sayyidina Ubaidah terluka parah akibat pertarungan ini.

Singkat cerita, kemenangan berada di tangan kaum Muslimin. Sebanyak 70 orang kafir tewas dan 70 lainnya ditawan. Sedangkan di pihak kaum Muslimin, 14 orang gugur sebagai syuhada.

Walhasil, peristiwa Badar mengajarkan kepada kita bahwa di balik kemenangan pasukan Islam dalam peperangan, terdapat doa Nabi yang tak henti-henti dilantunkan. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top