Waktu terus berjalan, Ramadan sudah mendekati tahap-tahap akhir. Sudah kita ketahui bersama bahwa di bulan Ramadan terdapat satu malam yang sangat spesial, yaitu malam Lailatul Qadar.
Apa itu malam Lailatul Qadar? Malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam di mana Allah menurunkan Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) sebelum kemudian diturunkan kepada Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berkala.
Saking istimewanya malam ini, Allah memberikan surat khusus untuk membahasnya, yaitu Surah Al-Qadar (surah ke-97) yang terdiri dari lima ayat:
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (5)”
Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan tepatnya malam Lailatul Qadar terjadi. Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam tersebut terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadan, lebih khusus lagi di malam-malam ganjil seperti malam ke-21, 23, 27, dan 29.
Hal ini didasarkan pada banyak riwayat, salah satunya adalah hadis berikut:
تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان
Artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. Imam Bukhari)
Dalam hadis lain disebutkan:
هي في شهر رمضان في العشر الأواخر, ليلة إحدي وعشرين, أو ثلاث وعشرين, أو خمس وعشرين, أو سبع وعشرين, أو تسع وعشرين, أو آخر ليلة من رمضان, من قامها إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر
Artinya: “Lailatul Qadar berada di bulan Ramadan pada sepuluh hari terakhirnya, yaitu malam kedua puluh satu, atau kedua puluh tiga, atau kedua puluh lima, atau kedua puluh tujuh, atau kedua puluh sembilan, atau di malam terakhir Ramadan. Barangsiapa shalat malam karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau dan yang akan datang.” (HR. Imam Ahmad)
Sepuluh malam terakhir kini sudah di depan mata. Sangat disayangkan jika kita membiarkannya berlalu begitu saja. Meskipun kita tahu bahwa pada periode ini sering kali semangat ibadah mulai menurun karena rasa lelah, justru di sinilah kita dianjurkan untuk tetap bertahan dan semakin giat dalam beribadah.
Berbagai ibadah dapat kita lakukan di malam-malam tersebut, seperti memperbanyak salat, sedekah, serta amal saleh lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Imam Bukhari)
Hadis ini saja sudah cukup menjadi alasan agar kita tidak menyia-nyiakan kesempatan besar di malam Lailatul Qadar. Intinya, selama bulan Ramadan, terutama di sepuluh malam terakhir, kita harus tetap semangat menanam amal kebajikan.
Malam Lailatul Qadar adalah anugerah khusus bagi umat Islam, sebuah kesempatan emas yang tidak dimiliki oleh umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, jangan sampai kita melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pahala beribadah yang setara dengan seribu bulan!. (*)

