Ibrah Dibalik Haditsul Ifki

Tahukah kalian? Pada tahun 5 hijiriah terjadi peristiwa memilukan sekaligus menggemparkan bagi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan umat Islam. Peristiwa itu disebut haditsul ifki dengan Sayyidah Aisyah sebagai korbannya. Penasaran? Okey, ku ceritakan secara singkat.

Pada saat itu Sayyidah Aisyah pergi bersama Rasulullah dalam peperangan Bani Musthaliq karena kebetulan beliau yang mendapat undian untuk ikut. Pengundian tersebut biasa dilakukan setiap Rasulullah shalallahu alaihi wassalam hendak melakukan perjalanan. Setelah peperangan usai, Rasulullah dan pasukannya melakukan perjalanan untuk kembali ke Madinah. Saat di perjalanan mereka singgah di suatu tempat.

Pada malam hari rombongan berniat melanjutkan perjalanan, saat semua orang berkemas-kemas hendak melanjutkan perjalanan, Sayyidah Aisyah keluar tanpa sepengetahuan rombongannya untuk membuang hajat. Ketika Sayyidah Aisyah akan kembali ke rombongan, beliau menyadari bahwa kalung yang ia gunakan sudah tidak menempel di lehernya, iapun bergegas kembali ketempat membuang hajat untuk mencari kalungnya.

Saat Sayyidah Aisyah sedang mencari kalungnya, rombongan mengira bahwa Sayyidah Aisyah tetap berada di haudaj (rumah kecil yang terpasang di pungguk unta), kemudian orang yang bertugas melayani unta Sayyidah Aisyah menuntun unta tersebut pergi bersama rombongan melanjutkan perjalanan mereka. Setelah Sayyidah Aisyah menemukan kalungnya ia segera kembali ke tempat peristirahatan namun tidak ada seorang pun disana.

Menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukan beliau memutuskan untuk beristirahat di tempat semula dan berharap orang-orang menyadari bahwa dirinya tertinggal.

Sayyidah Aisyah pun tertidur tapi tiba-tiba terdengar suara seseorang berucap “inna lillahi wainna ilaihi raaji’un, istri Rasulullah.” Saat ia membuka mata, terlihat Sofwan bin Mu’aththal berdiri di sampingnya. Sofwan mengenali Sayyidah Aisyah karena waktu itu sebelum ada perintah menggunakan hijab.

Setelah itu Sofwan merendahkan untanya dan meminta Sayyidah Aisyah menaikinya. Kemudian Sofwan menuntun unta tersebut untuk menyusul rombongan hingga di Nahr adz-Dzahirah. Melihat Sayyidah Aisyah yang dikabarkan menghilang datang dengan laki-laki yang bukan mahramnya, pimpinan orang munafik Abdullah bin Ubay bin Salul tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, ia pun mulai menyebarkan isu-isu keji terkait hubungan terlarang antara Sayyidah Aisyah dengan Sayyidina Shafwan bin Mu’aththal. Nahs dari sinilah fitnah mengenai Sayyidah Aisyah tersebar luas di Madinah.

Fitnah keji ini berjalan selama satu bulan, tak terbayang bagaimana hancurnya perasaan beliau di sisi lain Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga tidak bisa berbuat banyak, meskipun beliau sangat sayang kepada Sayyidah Aisyah tapi nasi telah menjadi bubur. Beliau hanya bisa berharap Allah subhanahu wa ta’ala segera menurunkan wahyu.
Dan finally, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyunya untuk membela kehormatan beliau, turunlah Surat an-Nur ayat 11-21.

Dari kisah diatas setidaknya kita bisa mengambil ibrah agar selalu berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala disetiap masalah yang kita hadapi, kita harus optimis seberat apapun masalahnya akan terasa ringan jika kita bertawakal dan jangan lupa untuk selalu husnudzon kepadanya
Selain itu kita juga bisa tahu betapa tingginya derajat Sayyidah Aisyah disisi Allah. Buktinya, saat beliau difitnah oleh orang-orang munafik Allah langsung yang membela kehormatannya. Kurang keren apa coba, wong yang dekengane pusat?. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top