Dewasa ini, shalat berjamaah sudah jarang dilaksanakan di kalangan masyarakat. Sementara itu, banyak masjid dibangun dengan megah. Tapi percuma saja, kumandang azan panggilan shalat sebagai ibadah mutlak tak biasa menarik sampai ke telinga dengan baik, apalagi ke hati dengan sempurna dan diterima dengan lapang dada. Terbukti, hanya satu dua orang saja yang menyimaknya, kemudian bergegas menuju masjid untuk shalat berjamaah. Apa gunanya masjid dibangun megah-megah, sementara yang shalat berjamaah hanya sedikit saja?
Memang, shalat tidak harus berjamaah. Tapi pasti kita sudah tahu bahwa pahala jamaah lebih banyak daripada shalat sendiri. Dengan berjamaah, shalat memperoleh pahala 27 derajat jauh berlipat ganda.
Maukah kita bayangkan, dalam sepekan, berapa hari masjid-masjid megah itu terisi banyak jamaah? Mungkin hanya setiap hari Jumat. Itu pun mungkin karena shalat Jumat diwajibkan untuk berjamaah. Coba saja jika tidak diwajibkan berjamaah, mungkin hanya tinggal masjidnya saja yang berdiri tegak tanpa ada penghuninya, seperti sebuah hutan yang dihuni banyak binatang buas, penuh kotoran dan sampah. Meski hutan menyimpan banyak sumber kehidupan, siapa yang mau mengunjunginya kalau mengerikan dan tak ada yang mempedulikannya? Apa susahnya menganggap dan meyakini masjid sebagai Baitullah, tempat hamba-hamba berdoa dan memohon segalanya?
Lebih menjurus lagi pada permasalahan ini, selentingan-selentingan perbincangan di sekitar kita menganggap shalat berjamaah hanya menyita waktu saja. Padahal, dalam banyak data penelitian ilmiah, hal-hal baik yang dilakukan dengan berjamaah (bersama-sama) menumbuhkan energi-energi positif pada jasmani maupun rohani manusia. Apalagi shalat.
Toh, berjamaah tidak harus di masjid kok. Bisa di mana saja. Dua orang pun bisa melakukannya satu orang menjadi imam, dan yang satunya lagi menjadi makmum. Ini bukan soal untung-rugi, tapi soal keutamaan. Tidak maukah kita menjadi hamba yang beribadah dengan cara yang lebih utama? Dan yang diyakini selama ini, keutamaan adalah kesempurnaan. (*)
