Curahan Hati Seekor Laba-laba

Ilustrasi tulisan "Curahan Hati Seekor Laba-laba". (AI)

Sunyi, dingin begitulah hari-hari membosankan yang kujalani, sejak kedua bola mataku terbuka tak ada hal menarik yang bisa kusaksikan, gua tempatku tinggal selalu lenggang jauh dari ingar bingar kehidupan, memang sih sekali-kali tempatku ramai oleh kawanan burung yang sedang bermigrasi, tapi hey itu tidak selalu terjadi, setiap malam aku selalu berharap kepada Tuhan setidaknya pada diumurku yang singkat aku ingin satu dua kali melihat peristiwa hebat.

Untuk mengusir rasa bosan aku berpura-pura menyibukkan diri membenahi sarang yang selalu rusak setiap kali angin berhembus, kadang aku suka protes mengapa Tuhan menjadikan sarangku begitu rapuh, bahkan dari saking lemahnya seekor nyamuk kecil bisa merusak sarangku dalam beberapa detik padahal aku susah payah menyulamnya. Tuhan mengapa kau jadikan sarangku begitu lemah dan rapuh? (Al-Ankabuut 29:41)
Malam ini, peristiwa luar biasa terjadi! Langit yang biasanya kelam entah kenapa tiba-tiba benderang, bintang-bintang lebih gemerlap dari biasanya ratusan atau bahkan ribuan meteor beterbangan silih-berganti, nun jauh disana sebuah Kota ditengah padang pasir mengeluarkan cahaya yang begitu terang. Tuhan pertanda apakah ini?
Keesokan paginya tempatku ramai oleh burung-burung merpati yang beristirahat mereka sibuk membahas kejadian semalam, rupanya tidak hanya aku yang menyaksikannya.

“Tahukah kalian peristiwa tadi malam?” Tanya salah satu merpati kepada temannya. “Entahlah tapi tadi malam begitu indah” sahut lainnya. “Hey bukankah kau sering mencari makan di kota itu? Apa yang terjadi disana?” Kicauan merpati semakin riuh cuitan ramai mereka mengundang burung-burung lain untuk bergabung, tapi mereka tetap tidak tahu-menahu tentang peristiwa yang terjadi di kota itu.

Beberapa hari kemudian akhirnya pertanyaan itu terjawab! Ternyata Rasul terakhir penutup risalah kenabian telah lahir di kota itu, para burung menyebutnya dengan kota Mekah tempat Kakbah berada yang katanya setiap tahun selalu ramai dikunjungi manusia.

Burung-burung semakin ramai membicarakannya bahkan ada beberapa yang memberanikan diri mengunjungi rumahnya dan mereka dengan bangga menceritakan sosoknya yang mulia. Tuhan andai aku tercipta sebagai seekor burung mungkin aku juga bisa melihat rupanya yang begitu sempurna. Tuhan mungkinkah suatu saat aku bisa melihat sosok agungnya?.

Berpuluh-puluh tahun setelah kejadian itu. Aku tetap tinggal di gua sempit ini, untungnya aku tak lagi sendirian beberapa pasangan merpati turut tinggal disini sepertinya mereka sedang musim kawin, oh iya hampir lupa beberapa hewan berbisa juga tinggal dibagian dalam gua tapi aku malas membahas mereka soalnya mereka bukan tetangga yang ramah.

Para merpati mulai sibuk membuat sarang, beberapa pasang merpati ikut bergabung juga, wah musim kawin kali ini kayaknya bakalan lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya. Aku termangu menatap mereka sembari menghela nafas resah sudah lebih dari satu bulan sejak musim kawin mulai mereka tidak lagi membicarakan Sang Nabi penutup risalah, bagaimana kabarnya sekarang? Warta terakhir yang kudapatkan beliau mendapatkan pengikut baru dari kota yang jauh. Sempat sih terbesit keinginan untuk bertanya kepada mereka namun pada akhirnya aku mengurungkan diri khawatir mengganggu quality time mereka. Isshh andai aku dikarunia sepasang sayap niscaya aku akan terbang menemuinya.

Terkejut, senang dan perasaan bahagia lainnya bercampur aduk menjadi satu, bagaimana tidak senang? Tadi malam untuk pertama kalinya dalam hidupku Tuhan yang ku sebut-sebut dalam doaku berfirman kepadaku, Ia berpesan agar aku membuat sarang terbaik guna menyambut tamu yang akan datang ke dalam Gua, saking senangnya aku lupa bertanya tentang siapakah tamu yang harus kusambut, tapi siapa peduli? Aku hanya ditugaskan oleh Tuhan saat mereka masuk kedalam Gua aku harus membuat sarang sebaik mungkin.
Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba, harap-harap cemas menanti kedatangan mereka, waktu terasa berjalan begitu lambat, matahari pulang ke peraduannya, malam pun datang menggantikan mentari, para merpati mulai terlelap sepertinya mereka terlalu lelah untuk menunggu.

Pucuk dicita ulam pun tiba, tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, mereka datang saat malam telah gelap gulita.
Sekali lagi aku mengintip mereka, dua orang laki-laki paruh baya berdiri di mulut Gua salah satu dari mereka masuk terlebih dahulu kedalam Gua memastikan semuanya aman. Para merpati terbangun saat mendengar langkah kaki masuk kedalam Gua, emang dasar makhluk cerewet saat mereka terbangun mereka heboh bukan main melihat tamu yang datang, bahkan mereka mulai berkicau dan bersenandung ria “Wahai tak kusangka tamu yang akan datang adalah Nabi akhir zaman” mereka bernyanyi begitu riang. Apa kata mereka? Nabi akhir zaman? Jangan-jangan tamu yang dimaksud?
“Wahai, apa maksud kicauan kalian?”
“Ya ampun, kau tidak tau? Oh iya kau belum pernah melihatnya. Lihatlah itulah Rasul terakhir yang sering kami ceritakan”
Dengan kaki gemetar aku mengintip sosok agungnya, Tuhan! ia jauh lebih rupawan dari yang diceritakan, dari wajahnya terpancar wibawa yang begitu menenangkan, pandangan mataku mulai kabur, hey! Tidak mungkin aku meneteskan air mata kan? Aku hanyalah seekor laba-laba kecil!.

Setelah semuanya terlihat aman mereka pun memasuki Gua untuk beristirahat, aku pun mulai melaksanakan tugas yang telah dititahkan oleh Tuhan, membuat sarang terbaik di mulut Gua, tak lama berselang aku mendengar erangan tertahan dari dalam Gua, aissh pasti itu perbuatan salah satu dari mereka, dasar! Apa kataku mereka memang tidak ramah.

Beberapa waktu kemudian, sekelompok orang bersenjata terlihat menuju Gua kami, dilihat dari tampangnya mereka sepertinya bukan orang yang bermaksud baik, mereka pasti para pengejar yang dibicarakan oleh Rasulullah dan sahabatnya itu.

Mulanya, mereka ingin masuk kedalam Gua tapi salah satu dari mereka menunjuk sarangku yang berada tepat di mulut Gua dan pada akhirnya mereka mengurungkan niatnya dan memilih menyisir bagian atas gua, ahahaha mereka termakan tipuanku, lihatlah wahai Tuhanku, aku berhasil menjalankan perintahmu.

Tiga hari berlalu, Rasulullah dan sahabatnya Abu Bakar memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hijrahnya ke kota Yatsrib, aku hanya menatap kepergian mereka dari mulut Gua. Ya Rasulallah, kelak, apakah aku bisa menemuimu lagi di surga-Nya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *