Salah satu penyakit dalam pergaulan masyarakat kita sekarang adalah berubahnya ukuran seseorang dalam memandang kemuliaan manusia.
Ada orang yang dihormati bukan karena akhlaknya, bukan karena ilmunya, bukan pula karena ketakwaannya, tetapi karena hartanya.
Orang yang kaya lebih mudah didengar. Orang yang memiliki jabatan lebih cepat dipercaya. Orang yang hidup mewah lebih mudah dianggap berhasil. Sementara orang yang sederhana, meskipun memiliki ilmu dan akhlak yang baik, terkadang tidak mendapatkan penghormatan yang sama.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Jangan-jangan kita sedang terkena penyakit yang telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ: menjadi “budak dinar”.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَالدِّرْهَمِ، وَالْقَطِيفَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ»
«“Celakalah budak dinar, budak dirham, dan budak qathifah (jenis pakaian). Jika diberi, ia rida; dan jika tidak diberi, ia tidak rida.”»
(HR. Bukhari, no. 6435)
Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ menggunakan kata “عبد” — budak atau hamba.
Yang dimaksud bukan sekadar orang yang memiliki harta. Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Yang menjadi masalah adalah ketika harta yang seharusnya berada di tangan justru menguasai hati.
Seseorang boleh memiliki dinar, tetapi jangan sampai menjadi budak dinar.
Boleh memiliki jabatan, tetapi jangan menjadi budak jabatan.
Boleh memiliki pakaian bagus, tetapi jangan sampai harga diri ditentukan oleh pakaian.
Boleh memiliki rumah dan kendaraan yang mewah, tetapi jangan sampai kemuliaan seseorang diukur dari rumah dan kendaraannya.
Untuk para orang tua
Penyakit ini terkadang tidak hanya muncul pada anak-anak, tetapi justru bisa dimulai dari cara orang tua mendidik.
Tanpa sadar, kita mungkin mengajarkan kepada anak:
“Lihat, dia orang kaya.”
“Dia sukses karena hartanya banyak.”
“Kalau ingin dihormati, harus punya ini dan itu.”
Akhirnya anak tumbuh dengan pemahaman bahwa nilai manusia ditentukan oleh apa yang ia miliki, bukan oleh siapa dirinya.
Kita pun terkadang lebih cepat menghormati seseorang karena kekayaannya daripada karena akhlaknya.
Ketika orang kaya berbicara, kita mendengarkan dengan penuh perhatian.
Ketika orang miskin berbicara, kita terkadang menganggapnya biasa saja.
Ketika seseorang memiliki jabatan, perkataannya dianggap penting.
Tetapi ketika seseorang sederhana namun berilmu dan berakhlak, kita belum tentu memberikan penghormatan yang sama.
Ini bukan berarti kita tidak boleh menghormati orang kaya. Tentu boleh.
Yang perlu diperbaiki adalah alasan kita menghormatinya.
Hormatilah orang kaya karena akhlaknya, kebaikannya, ilmunya, atau kontribusinya kepada masyarakat — bukan semata-mata karena hartanya.
Sebab kekayaan tidak otomatis menunjukkan kebenaran seseorang.
Orang kaya bisa benar, tetapi orang kaya juga bisa salah.
Orang miskin bisa salah, tetapi orang miskin juga bisa benar.
Maka jangan jadikan harta sebagai ukuran kebenaran.
Jangan sampai anak lebih mengenal orang kaya daripada orang berilmu
Ada hal lain yang perlu kita renungkan.
Siapa yang menjadi idola anak-anak kita?
Siapa yang paling sering mereka ikuti?
Siapa yang paling mereka kagumi?
Jangan sampai anak-anak kita lebih hafal kehidupan orang yang terkenal karena kekayaan dan popularitasnya daripada orang yang terkenal karena ilmu, akhlak, dan pengabdiannya kepada agama dan masyarakat.
Sebab anak belajar dari apa yang kita hormati.
Kalau di rumah mereka melihat orang kaya selalu dipuji, orang berilmu tidak diperhatikan, dan orang berakhlak tidak dianggap penting, maka secara perlahan mereka akan belajar bahwa nilai manusia terletak pada harta dan statusnya.
Untuk para pemuda
Penyakit berikutnya adalah ketika seorang pemuda mulai mencari harga dirinya melalui kesenangan dan pengakuan manusia.
Kemaksiatan dihiasi agar terlihat menarik.
Pergaulan bebas dianggap sebagai kebebasan.
Hubungan cinta dijalani tanpa garis agama.
Bahkan terkadang sesuatu yang seharusnya membuat seseorang malu justru dipamerkan agar mendapatkan pengakuan.
Padahal, pemuda seharusnya sedang membangun dirinya dengan ilmu, akhlak, keberanian, dan ketakwaan.
Jangan sampai kita sibuk memperindah penampilan, tetapi lupa memperindah akhlak.
Jangan sampai sibuk mencari pengakuan manusia, tetapi kehilangan penilaian Allah.
Dan jangan sampai kita menjadi “budak” dari sesuatu yang membuat kita lupa kepada Allah: budak harta, budak popularitas, budak penampilan, bahkan budak cinta yang tidak mengenal batas agama.
Harta bukan masalah, menjadi budak harta yang menjadi masalah
Kita perlu memahami hadis ini dengan benar.
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa orang kaya itu celaka hanya karena ia kaya.
Yang diperingatkan adalah عبد الدينار — orang yang menjadi hamba dinar.
Perbedaannya sangat besar.
Ada orang yang memiliki harta tetapi hatinya tetap sederhana.
Ada orang yang memiliki banyak uang tetapi tetap rendah hati.
Ada orang yang kaya tetapi hartanya digunakan untuk membantu orang lain.
Dan ada pula orang yang hartanya sedikit, tetapi hatinya sangat terikat kepada dunia.
Jadi persoalannya bukan:
“Berapa banyak harta yang kita miliki?”
Tetapi:
“Seberapa besar harta menguasai hati kita?”
Apakah ketika diberi kita bersyukur dan ketika tidak diberi kita tetap sabar?
Ataukah ketika diberi kita senang, tetapi ketika tidak diberi kita marah, kecewa, bahkan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya?
Inilah yang perlu kita renungkan dari sabda Rasulullah ﷺ.
Penutup
Mungkin penyakit pergaulan masyarakat kita hari ini bukan karena manusia tidak mengenal nilai, tetapi karena ukuran nilai itu telah bergeser.
Yang kaya lebih dihormati daripada yang berakhlak.
Yang terkenal lebih diikuti daripada yang berilmu.
Yang tampil mewah lebih dikagumi daripada yang sederhana tetapi bermanfaat.
Dan sebagian pemuda mencari kebahagiaan melalui kemaksiatan dan cinta yang tidak lagi mengenal batas agama.
Maka mari kita kembali kepada ukuran yang benar.
Jangan mengajarkan anak bahwa manusia mulia karena hartanya. Ajarkan bahwa manusia mulia karena akhlak, ilmu, amal, dan ketakwaannya.
Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan menjadi budaknya.
Kita boleh mencintai seseorang, tetapi jangan sampai cinta membuat kita melanggar agama.
Kita boleh menikmati dunia, tetapi jangan sampai dunia mengambil hati kita.
Sebab Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
«تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ»
“Celakalah budak dinar.’
Maka pertanyaan yang pantas kita ajukan kepada diri sendiri bukan hanya:
“Berapa banyak yang kita miliki?”
Tetapi:
“Siapa sebenarnya yang kita sembah dan siapa yang menguasai hati kita: Allah, atau dunia?”
