Halaqah Dialektika: Dari Krisis Menuju Kepemimpinan Progresif

Halaqah Dialektika yang digelar di kampus setempat dengan tema "Dari Krisis Menuju Kepemimpinan Progresif".

DIALEKTIKA.COM — Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) DIALEKTIKA Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep menggelar halaqah Dialektika bertema “Dari Krisis Menuju Kepemimpinan Progresif”. Acara ini berlangsung pada Minggu, 19 Januari 2025 di Angkringan A Kampus Blok A.

Diskusi ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Wakil Rektor I, Rahbini, Sekretaris Bidang (Sekbid) II PMII Sumenep, Abd Mannan, dan Fathorrozi, Pimpinan Umum LPM DIALEKTIKA periode 2021-2022. Selain itu, kegiatan ini dihadiri oleh anggota LPM Dialektika dan mahasiswa Institut Kariman Wirayudha.

Acara bertujuan menggali solusi agar krisis partisipasi mahasiswa dalam organisasi kampus tidak hanya menjadi hambatan, tetapi juga peluang untuk melahirkan kepemimpinan progresif.

Wakil Rektor I, Rahbini dalam pemaparannya menyoroti pentingnya mentalitas kepemimpinan yang tumbuh dari kesadaran diri mahasiswa.

“Kepemimpinan yang diinginkan mahasiswa bukan yang lahir secara instan, tetapi terbentuk dari mental yang kuat. Jangan bermimpi menjadi pemimpin besar kalau belum mampu menentukan kebijakan untuk diri sendiri,” tegas Rahbini.

Abd Mannan, Sekbid II PMII Sumenep menyoroti rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas politik di kampus. Menurut Mannan mahasiswa INKADHA perlu belajar dari kampus lain.

“Sejak saya kuliah, di kampus ini tidak ada gerakan mahasiswa yang aktif di bidang politik. Kita perlu belajar dari kampus lain yang memiliki budaya diskusi dan kajian yang progresif,” ungkapnya.

Ia juga mengusulkan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, civitas akademika, dan yayasan untuk meningkatkan kualitas kader.

“Jika ada keseimbangan dan dukungan dari semua pihak, kualitas mahasiswa akan meningkat. Kajian mereka mencakup gerakan sosial, politik, hingga kritik yang membangun,” jelasnya.

Sementara itu, Fathorrozi, Pimpinan Umum LPM DIALEKTIKA periode 2021, menyoroti krisis organisasi seperti SEMA (Senat Mahasiswa) dan DEMA (Dewan Mahasiswa) yang kekurangan peminat.

“Saya bingung, SEMA dan DEMA tidak ada yang daftar. Padahal, di kampus lain, budaya ini justru diperebutkan. Kalau terdengar oleh kampus lain, bukan hanya mereka yang tertawa, kodok pun ikut tertawa,” ujar Fathuorrozi dengan nada satir.

Ia juga mengkritisi mentalitas mahasiswa yang dianggap menjadi akar permasalahan. Rosi menjelaskan bahwa tidak ada orang malas jika dia punya tujuan.

“Permasalahannya bukan di organisasinya, tetapi mental kalian. Tidak ada orang malas kalau punya tujuan. Kalau kalian terus mengikuti rutinitas tanpa visi, tamat sudah riwayat kalian,” ujar Rosi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *