DIALEKTIKA.COM– Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dialektika Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep menghadiri seminar nasional yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Darussalam (FKMD) Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA) Bangkalan pada Minggu, 28 Desember 2025.
Selain delegasi dari INKADHA Sumenep, hadir pula perwakilan dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), UIN Sunan Ampel Surabaya, hingga Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Tema yang cukup berani dan krusial, yakni “Kritik Lingkungan dan Politik Label Wahabisme: Berdampak pada Kesadaran Ekologis Umat.” Diskusi ini membedah bagaimana label-label keagamaan tertentu seringkali digunakan untuk mendiskreditkan gerakan aktivisme lingkungan di akar rumput.
Aktivis senior Bangkalan sekaligus Keynote Speaker, Mathur Husairi, menegaskan bahwa seminar ini dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Namun, ironisnya, mahasiswa atau masyarakat yang berupaya menyuarakan terhadap kritik justru sering dipandang negatif.
“Seminar ini digelar karena banyaknya lingkungan yang mulai tercemar. Mahasiswa yang menulis dan mengkritik dianggap salah, padahal dengan adanya kritikan tersebut dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Mathur Husairi (28/12/25)
Eliya Nur Afdalina, salah satu tamu undangan yang hadir, mengungkapkan kegelisahannya terhadap stigma yang melekat pada mahasiswa kritis. Ia merasa ada upaya penyempitan ruang gerak bagi mereka yang peduli pada isu-isu lingkungan hidup.
“Kita mahasiswa yang peduli pada lingkungan dan berusaha mengangkat segala problem dengan memberikan kritik, malah dianggap sebagai mahasiswa yang suka ikut campur. Heran saya,” ungkap Eliya di sela-sela acara.
Melalui seminar ini, para peserta sepakat bahwa kesadaran Ekologis umat tidak boleh terhambat oleh sentimen politik atau Agama. Kritik terhadap perusakan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa untuk menjaga masa depan bumi.
