“Apa mereka berperang lagi?” Tanyaku heran.
“Iya, itu kabar yang kudengar dari para burung” jawab temanku mantap
“Ish, perang lagi perang lagi, dasar manusia” gerutuku sebal.
Kalian pasti sependapat denganku kan? Kalian juga pasti kesal dengan manusia-manusia yang hobinya perang, mbok yo hobi kok perang kayak gak ada hobi lain gitu, bukan apa-apa nih menurutku mau menang atau kalah perang tetap merugikan apalagi buat aku dan teman-temanku, setiap terjadi perang kami selalu terkena getahnya ada temanku yang kena panah nyasar bahkan nih ada kawanku yang mati hangus gara-gara obor dari si manusia-manusia sialan .
Oh iya aku belum memperkenalkan diri nih, katanya tak kenal maka tak sayang eh giliran udah kenal kok sayangnya sama orang lain? Ups canda. Aku adalah sebatang pohon kurma di sebuah kebun kurma (ya kali kebun sawit) aku tinggal di sebuah kota yang oleh para manusia sialan itu sebut Yatsrib, sebuah kota yang menurutku lebih subur dibandingkan dengan kota-kota lain di Jazirah Arab yah setidaknya itu sih yang aku dengar dari para burung yang suka nongkrong di dahanku, kebun kurma disini sangat subur teramat subur apa ya istilah yang tepat untuk menggambarkannya? Mmm istilahnya “Gemah ripah loh jinawi” barangkali seperti itu.
Tapi tapi tapi yang subur tanahnya bukan kebiasaan suku-suku yang tinggal di kota ini, kota Yatsrib merupakan kota yang cukup majemuk berbagai kabilah tinggal didalamnya, seharusnya kota ini menjadi kota yang indah dengan berbagai keberagamannya tapi ya gitulah kebiasaan manusia yang sulit ku mengerti mereka suka berperang satu sama lain, padahal ketika diusut pemicunya cuma masalah sepele.
Yah begitulah hari-hari membosankan di perkebunan, dalam satu tahun selalu aja ada perang, entah perang antar suku, kabilah atau antar keluarga. Kadangkala aku menghayal mungkin gak ya suatu saat kota ini menjadi kota yang tentram? Hhh aku tertawa geli memikirkannya.
“Satu bulan belakangan tumben gak ada perang ya” cicit seekor burung di dahanku
“Betul, kesannya malah aneh ya” sahut burung lainnya
Hmm, kalau dipikir-pikir yang dikatakan burung-burung itu ada benarnya, kondisi Kota Yatsrib tenang banget satu bulan belakangan, manusia-manusia itu malah keliatan senang banget, wajah-wajah mereka terlihat seperti menanti kedatangan seseorang, kalian pasti pernah liat muka seorang suami yang menanti kelahiran buah hatinya kan? Yah kira-kira seperti itulah gambaran wajah sebagian besar orang-orang Yatsrib saat ini, hmm sebuah anomali.
Atmosfer kebahagiaan semakin terasa, teman-temanku juga merasakan apa yang kurasakan bahkan hewan-hewan pengerat yang biasanya suka mencuri buah-buahku seperti enggan berbuat nakal, energi positif menyelimuti kota Yatsrib. Ada apa gerangan?
“Woro-woro, woro-woro” seekor Merpati terbang luntang-lantung, teman-temannya yang sedang asyik bercengkrama di dahanku sontak menoleh.
“Ada apa sih, heboh banget” gerutu kawannya.
“Kalian tau, beliau sudah datang” ucapnya dengan semangat empat lima.
“Apa! Bukannya masih di Quba?”
“Tidak tidak beliau sudah sampai, orang-orang berbondong-bondong menyambutnya di pintu gerbang kota”
“Tunggu apa lagi, ayo kita juga kesana” mereka pun bersiap untuk terbang, siapa sih yang dimaksud mereka?
“Bentar bentar yang kalian maksud siapa sih? Yang datang siapa” Tanyaku agak kesal setelah mendengar percakapan menggantung mereka.
“Kau tidak tau?” Si burung pembawa berita bertanya balik kepadaku.
“Kau ini memang kudet ya kalau soal ginian” sambung burung lainnya.
“Yah wajarlah aku mana bisa terbang macam kalian” ucapku membela diri
“Coba kalau aku bisa terbang sudah kubawa berita-berita menarik macam kalian, lagian…”
“Sudah-sudah ngomelnya, dahanmu sampai mau jatuh loh” potong si pembawa berita.
“Kau tau? Nabi akhir zaman hijrah ke kota kita”
Tunggu tunggu ini bukan mimpi kan? Nabi yang kelahirannya membuat pohon-pohon berbuah lebat itu? Beliau hijrah ke kota ini? Aku terus menggoyang-goyangkan dahanku saking senangnya.
“Sudah ngobrolnya, ayok berangkat aku sudah tak sabar melihatnya” burung-burung pun bersiap-siap mengepakkan sayapnya.
“Hey tunggu, aku mau ikut” tanpa sadar kata itu terucap dariku, tentu saja mereka menoleh dan menatapku aneh.
“Kau ini kan pohon, mana bisa pindah seenak jidat macam kami”
Aku hanya menatap kepergian mereka, termangu. Aduhai andai aku diciptakan sebagai seekor burung, mereka bisa terbang bebas kemanapun mereka mau, mereka dapat dengan leluasa menghaturkan salam kepada Baginda Rasul, isshh baru kali ini aku iri sama burung.
Berhari-hari aku terus berharap kepada Tuhan kalau dibolehkan aku ingin melihat rupa mulianya meskipun satu kali, tak mengapa sekilas saja sudah cukup tuk mengobati kerinduanku, bukankah tak ada obat yang lebih ampuh dari sakitnya rindu selain pertemuan? Bukankah kau Maha Mendengar atas segala doa ciptaanmu? Bukankah hamba juga termasuk ciptaanmu?
Tuhan tidak pernah tidur, ia selalu terjaga tuk mendengarkan keluh kesah makhluk-makhluknya, itulah yang selalu ku yakini. Rupanya ia lekas mengabulkan doaku bahkan ia memberi lebih dari apa yang ku pinta, begitulah Tuhan, saat kau memohon sepuluh seringkali ia memberimu seratus atau bahkan sejuta. Ceritanya gini:
Selang beberapa hari aku melihat segerombolan orang berkerumun menebang pohon-pohon kurma di perkebunanku, aku mengernyit heran tak mungkin ada perang kan? Atau jangan-jangan tanah ini akan dijadikan bangunan? Haduh gimana dong, masa iya aku harus mati sebelum melihat kekasihku? Benar dugaanku mereka sedang membangun sebuah bangunan, bentuknya tidak lazim yang jelas mereka tidak sedang membangun rumah tapi bangunan yang lebih besar lagi, entah apa namanya aku belum pernah melihatnya di kota ini. Pohon demi pohon terus ditebang bangunan itu sudah terlihat bentuknya, aku hanya bisa menatap kelu. Kira-kira kapan giliranku menyusul teman-temanku yang telah tumbang, burung-burung juga sudah menyingkir dari perkebunan selama masa pembangunan, haduh sudah jatuh tertimpa tangga pula sudah ditinggal kawan eh malah mau mati juga, nasib.
Namun takdir berkata lain, bangunan itu akhirnya selesai ajaibnya aku luput dari penebangan, malah menjadi bagian dari bangunan tersebut, tak lama setelah bangunan itu selesai orang-orang berkumpul didalamnya, dari wajah-wajahnya terlihat jelas rasa puas melihat pekerjaan yang selesai. Dan dikemudian hari akhirnya aku tau bahwa bangunan itu bernama Masjid.
Orang-orang terus berdatangan hingga ruangan di bangunan itu penuh sesak oleh Manusia, mereka ngapain sih sebenarnya? Rasa penasaranku terjawab saat seseorang yang tampaknya mereka tunggu-tunggu datang, bagai laut yang terbelah tongkat Nabi Musa kerumunan mereka tersibak begitu saja.
Tak alang kepalang terkejutnya diriku saat melihat sosok yang datang ternyata adalah sosok yang aku puja, beliau berjalan mantap diantara sahabat-sahabatnya dari sorot matanya yang mulia terlihat jelas kasih sayang dan cita-cita besar, Wahai Baginda! hamba tengelam dalam pesonamu.
Mereka berbaris rapi laksana prajurit yang siap bertempur, berjejer rapi menyatu dalam satu gerakan begitu indah dipandang, bagaimana mungkin manusia sebanyak itu bisa kompak hanya dengan satu kata “Allahu Akbar”? Kekagumanku tak berhenti sampai disitu saja setelah ritual yang mereka laksanakan selesai, Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tiba-tiba beranjak dari duduknya lantas beliau berjalan ke arahku, hey mimpi apa aku semalam? Oh iya pohon tak bermimpi, beliau berjalan mantap ke arahku lalu tangan mulianya memegan erat tubuhku, ya Tuhan nikmat apakah ini? Dari jarak sedekat ini bahkan aku bisa mendengar hela nafasnya dari jarak ini aku bisa mendengar jelas kata-kata indah nan agung dari lisan mulianya.
Kejadian luar biasa ini terus berlangsung, setiap pekan beliau selalu menghampiri diriku dan disetiap itu pula aku merasa menjadi pohon kurma paling beruntung di dunia bagaimana pula aku tak merasa beruntung? Adakah pohon kurma yang bisa dengan leluasa mendengar wejangannya? Sabda-sabdanya penuh dengan hikmah untaian kata-katanya sesak dengan nasehat-nasehat kebajikan dari lisannya lahir mutiara-mutiara ibrah kehidupan.
Hari ini adalah hari paling istimewa, bagaimana tidak hari ini Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam akan menghampiri diriku lalu berkhotbah kepada sahabat-sahabatnya, aduhh membayangkannya saja sudah membuatku senang. Akhirnya, Beliau datang berpakaian sederhana layaknya manusia biasa lantas memimpin ritual yang mereka sebut Salat berjamaah. Salam telah dilafalkan khotbah sebentar lagi akan diucapkan haduh kenapa waktu berjalan begitu lambat sih? Aku harap-harap senang melihat beliau beranjak bahkan aku bisa mencium aroma kesturi yang menguar dari tubuhnya, tapi tapi jauh api dari panggang beliau berjalan melewatiku aku ditinggalkan, aku dicampakkan.
Sesak, sedih menyaru jadi satu dosa apakah yang ku perbuat? Hingga beliau tak sudi mendatangiku lagi? Aku merintih, kecewa pada diriku sendiri dengan apa aku bisa mengungkapkannya? Aku hanyalah sebatang pohon kurma, manusia tidak akan mengerti perasaanku mereka tidak tahu-menahu apa yang kurasakan, andai aku manusia mungkin saja aku sudah menangis histeris lantaran kekasihku tak lagi memedulikanku, Tuhan! Sampaikanlah perasaanku pada Rasulullah aku ingin beliau tau kesedihanku.
Tuhan selalu memberi lebih, itulah yang ku ketahui. Beberapa saat setelahnya Baginda Rasulullah menatapku lantas berjalan dan memeluk erat tubuhku. “Pohon ini menangis karena merasa telah dilupakan, seandainya aku tidak menenangkanya niscaya suaranya akan tetap kalian dengar sampai hari kiamat” sabdanya, apa? Mereka mendengar suaraku? Pantas saja wajah mereka terlihat bingung atau takjub barangkali.
“Wahai ! Apakah kau tidak rida jika menjadi kayu rumahku kelak di Surga?” Sabdanya. Demi Tuhan! Itu adalah pertanyaan paling indah yang pernah ku dengar, tanpa tedeng aling-aling aku langsung mengiyakannya ibarat anak panah yang lepas dari busur barangkali itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kecepatan jawabanku.
Siapa sih yang bisa nolak permintaan beliau? Jangankan menjadi kayu rumah jadi kayu bakarnya pun aku rela. Aduhai betapa beruntungnya, aku hanya meminta perak namun Tuhan menganugerahkan permata. (*)
