Agama: Tidak Cukup Modal Akal

Sumber ilustrasi Pixabay.

Manusia adalah makhluk yang paling baik penciptaannya dari segi postur tubuh, kecerdasan dan kemampuan survival, hal ini termaktub dalam surah At-Tin 95:4 as-Sajdah 32:9 dan surah an-Nahl 16:78 yang didalam ayat-ayat ersebut dinyatakan bahwa Tuhan menjadikan manusia sebagai sebaik-baiknya ciptaan dari segi fisik dan akal.

Salah satu komponen mengapa Manusia lebih unggul daripada makhluk-makhluk lainnya adalah karena mereka memiliki akal, dengan akal inilah manusia mendapatkan kemampuan untuk berpikir, beradaptasi dan berinovasi di lingkungan manapun, selama akal manusia berfungsi dengan baikmaka selama itu pula ia bernilai.

Akal selalu ada disetiap lini kehidupan manusia bahkan dalam urusan agama salah satu syarat sahnya ibadah itu harus punya akal. Sebegitu vitalnya akal dalam kehidupan manusia sampai-sampai ia masuk dalam salah satu dari 5 hal yang harus dijaga yaitu: 1) Agama 2) Nyawa 3) Akal 4) Harta 5) Harga diri.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa akal menempati posisi strategis dalam urusan agama bahkan salah satu barometer kualitas agama seseorang dilihat dari akalnya sebagaimana sabda Nabi

٧٠٣٣- دين المرء عقله، ومن لا عقل له لا دين له. «أبو الشيخ في الثواب وابن النجار عن جابر

Namun sangat disayangkan karena hal ini pula banyak muncul golongan-golongan yang menuhankan akal daripada nash, mereka terlalu ekstrim menempatkan porsi akal didalam memahami nash Al-Qur’an ataupun Hadis sehingga efeknya ketika mereka membaca ayat atau hadis yang menurut mereka tidak masuk akal, mereka berani mempreteli ayat-ayat atau hadis tersebut sehingga sesuai dengan apa yang akal mereka inginkan.

Syaikh Ibrahim Muhammad Hasan Al Jamal menjelaskan di mukadimah kitabnya Zaujatun Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam bahwa akal tidak bisa menjadi satu-satunya alat untuk memahami agama Islam yang notabene bersumber dari Al-Quran dan Hadis. Mengapa? Karena didalam Al-Qur’an dan Hadis banyak terdapat hal-hal gaib yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan akal saja.

Contohnya bagaimana cara kita menjelaskan secara logis tentang proses penciptaan Nabi Isa? Secara logika hal itu tidak mungkin terjadi tapi kenyataannya? Contoh lainnya tentang kisah perjalanan isra mi’raj Nabi yang kejadiannya sulit dicerna oleh akal? Atau kita ambil contoh yang dekat-dekat saja, bagaimana kita menjelaskan keberadaan ruh didalam tubuh? Karena faktanya sampai saat ini tidak ada satupun penelitian yang diakui mampu menjelaskan ruh secara komplit.

Perlu diakui bahwa betapa pun hebatnya akal manusia ia juga memiliki batas sebagaimana fisik manusia itu sendiri dan agaknya terlalu berlebihan ketika kita terlalu percaya diri bahwa hanya dengan akal kita bisa memahami urusan agama, atau merasa mengerti kandungan Al-Qur’an dan hadis.

Akal manusia hanya terbatas terhadap hal-hal yang diketahui, ia tidak bisa menggambarkan sesuatu yang diluar jangkauan pengetahuan yang dimiliki. Kapasitas akal manusia tergantung pengetahuan yang dimiliki semakin banyak pengetahuannya maka semakin luas akal seseorang.

So, tidak logis jika hanya dengan akal manusia bisa memahami urusan agama Al-Qur’an dan hadis. Karena sekali lagi kemampuan akal manusia sementara kandungan Al-Qur’an, Hadis dan khazanah Islam tak terbatas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *