Familiar dengan kata di atas? Tentu saja, jika kalian tipe orang yang suka mengajak orang lain terhadap kebaikan dan mengingatkan orang lain agar jauh dari kemungkaran maka kata-kata di atas pasti pernah kita dapatkan.
Kata-kata di atas seringkali muncul dari orang-orang yang sebenarnya menolak kita nasihati ataupun orang-orang yang memang pada dasarnya tidak senang terhadap kita. Yah penolakan semacam itu memang biasa terjadi ketika kita berbuat kebaikan akan tetapi makin kesini label sok baik dan sok suci kepada orang-orang yang berusaha mengamalkan amar makruf nahi mungkar semakin sering muncul ke permukaan.
Contoh sederhananya saja saat kita bermain media sosial entah itu Tiktok, Instagram, YouTube dan sosial media lainnya ketika menemukan konten-konten yang tidak senonoh alias mengandung unsur pornografi atau tindakan tidak terpuji lainnya. Coba deh jika kalian buka kolom komentar seandainya ada orang yang berkomentar dengan tujuan mengingatkan pasti ada aja balasan komentar miring terhadap orang itu yang kurang lebih bunyinya seperti ini “gak suka tinggal skip bos” “sok suci” “gak usah munafik lo suka juga liatnya kan?” dan komentar-komentar jahat lainnya.
Fenomena semacam ini tidak boleh kita diamkan loh! Sebagai seorang muslim yang masih waras kita harus menjawab tuduhan-tuduhan tak berdasar mereka, mengapa? Karena jika dibiarkan khawatir orang-orang yang berminat untuk amar makruf nahi mungkar semakin berkurang, padahal dalam Islam sendiri kita diajarkan untuk senantiasa saling menasehati dalam kebaikan dan tolong menolong dalam kebenaran.
Okey kita bedah satu persatu kata yang mereka gunakan, karena strategi terampuh untuk menjatuhkan lawan adalah dengan menggunakan senjata mereka sendiri.
Pertama, kata sok baik dan sok suci yang sering mereka gunakan sebenarnya mengandung ambiguitas karena mereka mengaitkan keadaan seseorang yang sok baik dengan kemunafikan, kalau kita usut lagu ungkapan sok baik memiliki titik bias karena di dalamnya mencakup orang yang memang sebenarnya sedang berusaha baik atau orang yang pura-pura baik.
Kedua ungkapan “Munafik” seperti yang dijelaskan diawal mereka berusaha mengaitkan seseorang yang sedang melakukan kebaikan (dalam konteks ini memberi nasihat) dengan kemunafikan padahal Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَف َ»
Tanda-tanda orang munafik ada tiga : bila berbicara ia berdusta, bila dipercaya ia khianat, dan bila berjanji ia ingkar. (H.R. Nasai)
Gimana? Dapat sesuatu? Yups benar dari ketiga ciri orang munafik diatas tidak ada satupun ciri-ciri yang sesuai dengan kriteria orang yang mereka tuduhkan, gak ada tuh ungkapan yang mengarah terhadap sok baik atau sok suci. Jaka Sembung makan soto gak nyambung bro.
Selain itu, bukankah berusaha menjadi baik adalah hal yang baik? Setidaknya ketika kita tidak berhasil menjadi orang yang benar-benar baik kita telah berusaha menjadi orang baik. Kita telah berusaha mengamalkan firman Tuhan agar tidak menjadi orang yang merugi dengan senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْر
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Terakhir, yuk budayakan lapang hati ketika kita dinasehati, mari sadar diri saat kita melakukan kesalahan dan stop mengatakan “sok suci” kepada orang-orang yang menasehati dalam kebaikan. (*)
